Ketimpangan

g-20

SELURUH DUNIA

Sebuah laporan dari Oxfam pada Januari 2014 mengklaim bahwa jumlah kekayaan 85 orang terkaya di dunia bila digabungkan setara dengan jumlah kekayaan 50% kelompok bawah populasi dunia atau sekitar 3,5 milyar orang. (http://www.oxfam.org/en/pressroom/pressrelease/2014-01-20/rigged-rulesmean-economic-growth-increasingly-winner-takes-all-for-rich-elites)

INDONESIA

Pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil dalam sepuluh tahun terakhir, tapi di sisi yang lain Gini Ratio-nya meningkat. Artinya pertumbuhan ekonomi tidak dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Salah satu indikator standar ketimpangan ekonomi adalah koefisien Gini. Nilainya antara 0 dan 1, semakin mendekati 1 berarti semakin timpang dan sebaliknya.

MENGAPA INI PENTING SEHINGGA INFID MENGADVOKASINYA?

Ketimpangan pendapatan berakibat buruk bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Pendapatan yang ajeg bagi ‘95 persen bagian bawah’ kaum pekerja membuat mereka tak mungkin mengkonsumsi barang dan jasa seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ketimpangan di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun, terutama setelah tahun 1999. Share pendapatan 40% warga termiskin di Indonesia menurun drastis, sementara pendapatan 10% warga terkaya meningkat.

Ada tiga dimensi ketimpangan yaitu ketimpangan antar wilayah, antar sektor dan antar kelompok pendapatan.

Yang biasa dipakai INFID ada 2:

Ketimpatangan income dan opportunity. Dampak ketimpangan banyak sekali, bukan hanya kelompok bawah merasa iri dan frustasi, tetapi kelompok atas juga akan merasa pertumbuhan ekonomi yang terjadi tidak menguntungkan sama sekali.

KETIMPANGAN PENGHASILAN DI INDONESIA

Ketimpangan pendapatan buruk bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Pendapatan yang ajeg bagi “95 persen bagian bawah” kaum pekerja membuat mereka tak mungkin mengkonsumsi barang dan jasa seperti tahun tahun sebelumnya. Menurut BPS koefisien Gini Indonesia tahun 2012 sebesar 0.42, naik dari tahun 2011 sebesar 0,41.

Sejak reformasi 1998 baru pertama kalinya koefisien Gini kita menembus angka 0,4. Indeks Gini Indonesia dilaporkan semakin meningkat tajam. Indeks Gini di perkotaan lebih besar daripada di pedesaan.

KETIMPANGAN GENDER DI INDONESIA

Selain terjadi percepatan ketimpangan pendapatan, relasi perempuan dan laki-laki baik di dalam ekonomi, sosial dan politik juga kian timpang. Berikut fakta-fakta mengenai ketimpangan gender:

Kekerasan terhadap perempuan semakin meningkat. Komnas Perempuan mencatat, 11.719 pengaduan akibat KDRT di tahun 2013 meningkat dari 8.315 kasus di tahun 2012. Sebagian besar KRDT menimpa perempuan. Tingginya angka kematian ibu melahirkan. Dari 228 kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup pda tahun 2007, menjadi 359 kematian ibu di tahun 2012 (INFID, 2012). Ini menunjukkan negara abai terhadap kesehatan perempuan.

Menurunnya perempuan di legislatif. Dari 103 perempuan dari 560 anggota DPR RI periode 2009-2014 (18%) menurun menjadi 97 perempuan dari 560 anggota DPR RI periode 2014-2019 (17%).Keterwakilan perempuan sangat timpang dibanding laki-laki.

Kekerasan terhadap buruh migran. Sepanjang 2013, Migrant Care mencatat setidaknya ada 398.270 kasus yang menimpa buruh migran di berbagai negara tujuan. Para korban mayoritas perempuan yang bekerja di sektor rumah tangga, khususnya yang bekerja di Malaysia dan Arab Saudi (Migrant Care, 2013).

Pada bulan Maret 2014, INFID mengeluarkan pernyataan pers yang meminta agar persoalan ketimpangan (inequality), menjadi agenda utama Calon Presiden (Capres) Indonesia.

Pada Pemilu 2004 dan 2009, ketimpangan belum pernah dibahas dan diperdebatkan oleh para caleg dan capres. Padahal, implikasi masalahnya nyata, konkret dan dialami oleh banyak warga negara. Jika ketimpangan dibahas dan diperdebatkan pada pemilu mendatang, diharapkan ketimpangan akan menjadi agenda utama dalam Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019

  • Ilman Unm

    admin share donk tentang buku ketimpangan pembangunan wilayah