Fellowship for Youth

2017-11-24

TOR Fellowship for Youth
Pemimpin Muda untuk Pembangunan Kota/Kabupaten HAM; Penguatan Peran Anak Muda dalam Mempromosikan Toleransi, Pluralisme, dan Demokrasi melalui Kabupaten/Kota HAM.
Jakarta, November – Januari 2017

Latar Belakang

Intoleransi dan radikalisme dengan kekerasan, menjadi isu yang berkembang dalam menghalangi proses hukum, hak asasi manusia, dan demokrasi di Indonesia. Kelompok radikal dan intoleran di Indonesia menjadi ancaman berbahaya yang dapat mengeliminasi pluralisme demokrasi di Indonesia, karena 1) Bertentangan dengan demokrasi dan hak asasi manusia dan bertujuan untuk mengubah Indonesia menjadi Negara dengan hukum Islam, 2) Bertentangan dengan Indonesia, sebagai Negara yang plural, 3) Bersikap diskriminatif terhadap kelompok lain yang berbeda, 4) Menggunakan praktek-praktek kekerasan, intimidasi, dan praktek illegal lainnya dalam usahanya untuk mencapai tujuannya.

Hal-hal tersebut merupakan hambatan bagi pembangunan di Indonesia. Di dalam upaya- upaya menangani masalah ini, INFID tidak hanya melibatkan pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah melalui kerangka Kota/Kabupaten Peduli HAM. Di dalam kerangka tersebut, beberapa pemerintah daerah telah terbuka mendorong partisipasi anak muda untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah. Contohnya adalah Kabupaten Bojonegoro di mana Bupati secara aktif mendorong anak muda untuk bergabung dengan komunitas blogger. Komunitas ini aktif dalam memproduksi konten audiovisual dan teks di berbagai platform media sosial yang berisi aspirasi warga dan informasi-informasi positif lainnya.

Bupati Bojonegoro, Suyoto, juga telah meluncurkan program “Menjadi Bupati Sehari” untuk siswa SMA. Dengan seleksi yang ketat, dua siswa SMA akan berperan dalam menggantikan Bupati dan Wakil Bupati selama sehari penuh. Di sini siswa diajarkan untuk menjadi pemimpin nomor satu di Kabupaten. Mereka diajarkan bagaimana melayani warga, memimpin dan mengendalikan bawahan, menganggarkan dan memprioritaskan pembangunan, memimpin rapat, menangani keluhan warga, melakukan kunjungan ke masyarakat dan sebagainya.

Peran anak muda dalam pembangunan di level lokal melalui kerangka Kabupaten/Kota HAM sangat penting karena mereka memiliki hak untuk berkontribusi langsung ataspembuatan kebijakan yang akan berdampak langsung kepada kehidupan mereka. Jumlah anak muda yang besar serta kreativitas dan inovasi yang mereka miliki sangat dibutuhkan oleh pembuat kebijakan di daerah. Riset INFID dan Wahid Foundation di tahun 2016 juga menunjukkan orang muda memainkan peran kunci, melalui penguasaan media sosial dalam melawan kebencian dan hasutan untuk intoleransi dan kekerasan berdasarkan agama dan etnis di Indonesia.

Untuk menjawab persoalan ini, INFID akan bekerjasama dengan pemerintah pusat, dan pemerintah daerah (Kabupaten dan Kota), melalui konsep Kabupaten/Kota HAM, akan mendorong lebih jauh partisipasi anak muda sebagai aktor penting untuk mengkampanyekan isu-isu terkait toleransi dan demokrasi, terutama kepada kalangan pemuda lainnya.Bentuk dorongan ini dilakukan melalui program “Pemimpin Muda untuk Pembangunan Kota/Kabupaten Peduli HAM; Penguatan Partisipasi Anak Muda sebagai Agen Perubahan di Bojonegoro, Wonosobo dan Jakarta.” Program ini merupakan fasilitasi dan asistensi kepada 10 anak muda dari Bojonegoro, Wonosobo dan Jakarta untuk memaksimalkan potensinya sebagai calon pemimpin masa depan melalui pelibatannya dengan pemerintah lokal.

 

Maksud &Tujuan

  • Melibatkan 10 anak muda dari Bojonegoro, Wonosobo dan Jakarta untuk mempromosikan pluralisme dan toleransi dalam kerangka Kota/Kabupaten Peduli HAM.
  • Membuka ruang bagi pemerintah daerah Bojonegoro, Wonosobo dan Jakarta untuk memfasilitasi keterlibatan anak muda dan publik di dalam pemerintahan.
  • Memberi rekomendasi kebijakan yang memperkuat HAM dan demokrasi untuk diadaptasi di tingkat lokal dan pusat.
  • Peserta memiliki tambahan pengetahuan, kemampuan, dan kepercayaan diri dalam mengadvokasi isu HAM dan Demokrasi dengan menggunakan media sosial dan bermitra dengan pemerintah (lokal maupun nasional)


Peserta
Peserta dari aktivitas ini adalah 10 orang anak muda, dengan pembagian 6 orang dari
Jakarta, 2 orang dari Kabupaten Wonosobo, dan 2 orang dari Bojonegoro, dengan komposisi minimal 30% perempuan.


Rangkaian Aktivitas


1.Seleksi


10 anak muda terpilih berusia 18 – 25 tahun dari Bojonegoro, Wonosobo dan Jakarta akan difasilitasi dan diberi penguatan kapasitas untuk menjadi pemimpin masa depan. Ke-10 anak muda akan menjadi agen perubahan untuk mempromosikan nilai- nilai pluralisme dan toleransi dalam kerangka Kota/Kabupaten Peduli HAM.

2.Pelatihan & Mentoring


Penguatan kapasitas para pemimpin muda dilakukan melalui pelatihan dan mentoring oleh para ahli yang memiliki perspektif HAM dan demokrasi. Pelatihan dan mentoring ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas anak muda dalam kepemimpinan, penulisan, komunikasi dan pengetahuan akan HAM dan demokrasi.

3. Proyek Kampanye Kreatif “Pak Presiden, Saya punya ide …”


Dalam aktivitas ini, peserta diminta untuk menjalankan project “Bapak Presiden, saya/kami punya ide….” Dalam bentuk proposal singkat tertulis, atau video. Project ini dikerjakan oleh peserta dalam kelompok-kelompok kecil. Peserta diharapkan dapat mengembangkan proposal yang spesifik dan konkrit untuk Presiden, dengan tema terkait toleransi, pluralisme, Hak Asasi Manusia, layanan publik, partisipasi

warga, dan isu lain yang berkaitan dengan publik. Mereka juga akan mempresentasikan hasil proyek mereka dalam aktivitas khusus.

4.Partisipasi dalam Konferensi Kabupaten/Kota HAM


Konferensi Kabupaten/Kota HAM adalah konferensi yang secara rutin dilaksanakan oleh INFID sejak tahun 2014. Konferensi ini menjadi forum berbagi pengalaman keberhasilan pemerintah daerah dalam membangun daerah yang ramah hak asasi manusia, juga sebagai forum silaturahmi aktor-aktor human rights cities dari tingkat lokal hingga tingkat nasional. Para peserta akan memiliki kesempatan untuk bertemu, belajar, berbagi pengalaman, dan berjejaring dengan para peserta konferensi nanti.

5.Talkshow


Dalam aktivitas ini, para peserta akan mendapatkan kesempatan untuk berdialog langsung dengan para aktor pemerintah dari level nasional (Menteri Ketenagakerjaan, Menteri Hukum dan HAM), dari level lokal (Bupati Bojonegoro, Bupati Wonosobo). Mereka juga berkesempatan untuk memaparkan hasil dari projek yang mereka kerjakan. Aktivitas ini bersifat terbuka, dan akan menjadi tempat bagi para peserta untuk mempraktikkan hasil pelatihan dan mentoring mereka.


Seleksi

  • Kriteria Seleksi
  • Anak muda berusia 18 – 25 tahun
  • Berasal dari Bojonegoro, Wonosobo dan Jakarta
  • Berjiwa pemimpin, bertanggung jawab dan aktif
  • Memiliki perhatian dan ketertarikan kepada isu HAM, demokrasi dan pluralism
  • Bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan

Panitia Seleksi

  • Inayah Wahid (Pekerja Seni, Aktivis Anti-Korupsi dan Pluralisme, Putri Ke-4 KH Abdurrahman Wahid)
  • Usman Hamid (Direktur Amnesty International Indonesia)
  • Ms. Binny Buchori (Tenaga Ahli Utama Deputi IV, Kantor Staff Presiden)
  • Ms. Zumrotin K Susilo (Aktivis Senior HAM dan Demokrasi)


Timeline

  • Pendaftaran : 20 - 30 November 2017
  • Penjurian : 1 - 3 Desember 2017
  • Mentoring : to be confirmed
  • Konferensi : 6 – 8 Desember 2017
  • Pengerjaan Project : to be confirmed
  • Talkshow : 15 Januari 2018

Kirimkan formulir pendaftaran ke info@infid.org dengan subjek FELLOWSHIP_[nama kamu] paling lambat 30 November 2017.

 

 

TOR Fellowship silahkan unduh

Formulir Aplikasi RBS silahkan unduh