In the last few weeks, the Foreign Ministry has been under the public
spotlight in relation to corruption cases allegedly involving a number
of senior diplomats. Corruption that involves diplomats is perceived as
directly reflecting the whole performance of Indonesia’s international
diplomacy, and hence the image of the nation.
Diplomats, particularly ambassadors, are the representatives of the
whole nation and are at the forefront in campaigning for the national
interests in international relations. Will it impact on the
international negotiations and international agreements? Is it an
administrative fault or a crime?
Berita › INFID Dalam Berita
Dalam siaran pers tertulis, buku oposisi maya mencoba menjawab
pertanyaan mengenai apa yang membuat jejaring sosial berhasil menjaring
dukungan sedemikian besar, seperti dalam kasus Prita. Juga menjelaskan
karakter apa yang terdapat dalam dunia maya sehingga bisa melibatkan
begitu banyak kalangan menengah perkotaan yang dianggap apolitis.
Oposisi Maya juga mencoba menjawab bagaimana media jejaring sosial
seperti Facebook dapat dijadikan suatu alat gerakan sosial.
Buku tersebut ditulis oleh Lies Marcoes-Natsir, Saleh Abdullah, Nezar
Patria, Linda Christanty, Nurhady Sirimorok, Dodi Yunia, Mulyani Hasan,
Nilam Indahsari, dan Puthut. Mereka adalah pemerhati gerakan sosial
yang berasal dari INSISTPress, Perkumpulan Praxis, Remdec Swaprakarsa,
Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI), Yayasan Sosial Indonesia
untuk Kemanusiaan (YSIK), Internasional NGO Forum on Indonesian
Development (INFID), dan perkumpulan Demos, Lembaga Kajian Demokrasi
dan Hak Asasi.
Sayang sekali, sampai hari ini, pemerintah sangat abai pada peringatan
kemungkinan Indonesia mengalami kegagalan dalam pencapaian MDGs pada
2015. Sejak 2005 hingga 2009, laporan selalu menempatkan Indonesia pada
posisi negara yang rentan. Indeks kerentanan pencapaian MDGs Indonesia
berada pada posisi menengah bersama Filipina, Nepal, dan Papua Niugini
serta lebih buruk ketimbang Vietnam, Banglades, dan India. Pengabaian
terlihat dari laporan pencapaian MDGs yang dibuat pemerintah sejak
tahun 2004 sampai 2009.
Yang tampak kasatmata adalah perbedaan data soal angka kematian ibu
melahirkan di Indonesia. Pada tahun 2009, secara serentak Komisi
Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Pasifik (UNESCAP), Program
Pembangunan PBB (UNDP), UNFPA, dan WHO (data juga dikonfirmasi oleh ADB
dan Bank Dunia) menyatakan bahwa telah terjadi kenaikan angka kematian
ibu melahirkan dari 307/100.000 kelahiran hidup ke 420/100.000. Namun,
data ini diabaikan oleh pemerintah yang bersikukuh pada angka
228/100.000, seperti dituliskan dalam Laporan Pencapaian MDGs di
Indonesia yang diterbitkan pemerintah pada 2009.
“Seharusnya, dalam seratus hari bisa membentuk fondasi diplomasi yang
komprehensif, kalau cuma pemulangan TKI dan naturalisasi, itu pekerjaan
rutin,” kata Wahyu Susilo, Kepala Divisi Advokasi International NGO
Forum on Indonesian Development (INFID).
Pernyataan senada disampaikan Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant
CARE. Menurutnya, pemulangan TKI bermasalah tidak bisa dijadikan
program 100 hari. “Itu kewajiban negara, memulangkan buruh migran
bermasalah. Kenapa dimasukkan program seratus hari, seharusnya
meletakkan dasar perlindungan lima tahun ke depan,” kata Anis.
Secara terpisah, Kepala Biro Humas Departemen Pertahanan Kolonel I
Wayan Midhio mengaku sudah mendengar temuan itu. “Saya belum
membacanya. Tapi, saya dengar sekarang masih dianalisa oleh Direktur
Wilayah Perbatasan,” katanya.
Soal sanksi bagi prajurit TNI yang terlibat, Wayan menyerahkan
sepenuhnya pada Markas Besar TNI. “Itu soal teknis, silahkan ke Mabes
TNI langsung,” katanya. Sebelumnya Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI
Marsekal Muda Sagom Tamboen menegaskan pihaknya akan memberi sanksi
tegas jika hal itu terbukti. Namun, kata Sagom, hasil riset itu adalah
temuan lama yang diungkap kembali.
Direktur Eksekutif INFID ( International NGO Forum on Indonesian
Development) Donatus K Marut menilai TNI di perbatasan harus segera
direorganisasi. “Kita melihat bahwa masalah itu soal keamanan, selama
ini sudah ada TNI dan polisi tapi justru mereka sendiri yang terlibat,”
katanya.
Sejak saat itulah, semua penguasa di Indonesia punya selera tinggi
untuk berutang. Seolah-olah haram bagi presiden untuk tidak utang.
Utang menjadi sebuah kewajiban. Kebiasaan ini menjadi yang kemudian
melahirkan istilah baru: Kecanduan utang.
Istilah ini lahir dari Koordinator Advokasi International NGO Forum on
Indonesian Development (INFID) Wahyu Susilo dalam sebuah diskusi "100
Hari Pemerintahan SBY- Boediono" di Jakarta, Minggu (31/1). Dia
mengatakan, timbunan utang Indonesia semakin menggunung selama
pemerintahan SBY- Boediono. INFID pun menilai Kabinet Indonesia Bersatu
II sudah kecanduan utang baik utang bilateral dan multilateral.
Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda Sagom
Tamboen menegaskan, pihaknya akan memberi sanksi tegas jika hal itu
terbukti. Namun, kata dia, hasil riset tersebut merupakan temuan lama
yang diungkap kembali.
Direktur Eksekutif INFID (International NGO Forum on Indonesian
Development) Donatus K. Marut menilai, TNI di perbatasan harus segera
direorganisasi. 'Kami melihat masalah itu soal keamanan. Selama ini
sudah ada TNI dan polisi. Tapi, justru mereka sendiri yang terlibat,'
tegasnya.
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengakuan terhadap eksistensi dan hak-hak
masyarakat adat di Papua dan Kalimantan dinilai berjalan sangat lambat.
Sebaliknya, dengan berbagai macam cara, hak-hak masyarakat asli
dikurangi dan sumber kekayaan alam diserahkan kepada pemilik modal.
"Lantas
mereka menjadi buruh dan orang asing di tanah sendiri. Terpuruk dalam
kemiskinan multidimensi," ungkap Ketua Komisi Keadilan dan
Perdamaian-Pastoral Migran dan Perantau Konferensi Wali Gereja
Indonesia, Mrs. Agustinus Agus, saat membacakan kesimpulan diskusi
Pulihkan Hak Hidup Masyarakat Adat di Jakarta, Sabtu ( 30/1/2010 ).
Ikut
hadir perwakilan masyarakat Papua, Neles Tebay, masyarakat Dayak, John
Bamba, perwakilan Departemen Pertahanan, Ahmad F, dan Direktur INFID,
Don K Marut.
JAKARTA, KOMPAS.com — Tingkat eksploitasi kekayaan alam di tanah
Kalimantan dan Papua dianggap tidak memengaruhi tingkat kesejahteraan
masyarakat lokal. Eksploitasi SDA itu dinilai lebih melayani
kepentingan perusahaan-perusahaan transnasional.
"Semakin tinggi tingkat eksploitasi, semakin kecil kemungkinan
masyarakat lokal menikmati pembangunan di daerahnya masing-masing,"
ucap Don K Marut, Direktur INFID, saat diskusi "Pulihkan Hak Hidup
Masyarakat Adat" di Gedung Konferensi Wali Gereja (KWI) di Jakarta,
Sabtu (30/1/2010).
JAKARTA--Mabes TNI tampaknya harus segera melakukan pengecekan lapangan pada anggotanya di perbatasan Malaysia-Indonesia, terutama Nunukan Kalimantan Timur. Tim peneliti Universitas Indonesia menemukan fakta, bahwa selama 10 tahun oknum-oknum anggota TNI menjadi beking cukong-cukong kayu dan pembalak liar. Kayu haram itu diselundupkan ke Malaysia. “Kami memulai sejak 1999 dan memasuki finishing akhir penelitian Desember 2009. Penelitian itu baru kami sampaikan ke publik pekan ini,” ujar Tirta Nugraha Mursitama, Ph.D ketua tim peneliti dari Center for East Asian Cooperation Studis (Ceacos) Fisip Universitas Indonesia, kemarin (31/1).

