Ketimpangan

Sepanjang 10-15 tahun terakhir, Indonesia memiliki kinerja yang baik dalam hal pertumbuhan ekonomi. Indonesia kini juga tidak tergantung lagi kepada bantuan dan pinjaman luar negeri (foreign aid/assistance) seperti masa 15 tahun lalu. Sebagian besar dana pembangunan kini diandalkan pada pajak dan pendapatan non pajak.

Indonesia bahkan naik kelas menjadi anggota G20, kumpulan negara-negara dengan produksi ekonomi terbesar di dunia. Diantara negara-negara G20, Indonesia merupakan (a) negara dengan belanja sosial (social spending) terkecil; (b) negara dengan perolehan pajak terkecil (12% PDB), sangat jauh dari profil dan postur ekonominya sebagai negara kelas menengah.

Akan tetapi pada waktu yang sama, ternyata angka Ketimpangan justru meningkat menjadi 0.41 (2012). Ini memberi pelajaran kepada pemerintah baru agar aspek pemerataan juga menjadi perhatian dan prioritas utama. Pemerintah baru Jokowi-JK memiliki peluang untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan dan pemerataan.

Tantangannya untuk pemerataan pembangunan di Indonesia antara lain adalah bagaimana memastikan (i) penurunan Ketimpangan, bukan hanya penurunan Kemiskinan dan Pengangguran, menjadi indikator pembanguna setiap tahun dan 5 tahun. (ii) bagaimana membuat sistem Pajak dan Belanja sosial Indonesia (tax and transfer), dapat efektif menurunkan Ketimpangan; (iii) mendesaaknya program-program pemerintah yang memperluas kesempatan pelayanan pendidikan dan kesehatan, termasuk pemerataan di wilayah-wilayah Indonesia Timur serta penghapusan berbagai praktik diskriminasi (kelompok diffable, perempuan, masyarakat adat, Lansia).