Indeks Investasi Hijau untuk Perbankan Berkelanjutan


Jakarta – Indonesian Working Group on Forest Finance (IWGFF) dan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) mengadakan dialog sekaligus peluncuran hasil penilaian Indeks Investasi Hijau (IIH) Bank di Indonesia pada Kamis (28/06/18). Indeks ini mengukur sejauh mana perbankan di Indonesia telah menerapkan konsep perbankan hijau atau green banking.

Dalam studi ini, tim peneliti IWGFF mengkaji Laporan Tahunan (Annual Report) dan Laporan Berkelanjutan (Sustainability Report) tahun 2016 dari 12 bank nasional dan internasional yang beroperasi di Indonesia. Kedua belas bank tersebut antara lain Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Central Asia (BCA), Bank Negara Indonesia (BNI) 46, CIMB Niaga, Sumitomo, Permata, Panin Bank, Citibank, Robobank, DBS, dan Danamon.

Prinsip operasional dalam penelitian diambil dari peta jalan keuangan berkelanjutan 2015-2016 Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ada 4 prinsip yang digunakan yaitu prinsip pengelolaan risiko, prinsip pengembangan sektor ekonomi prioritas berkelanjutan yang bersifat inklusif, prinsip tata kelola lingkungan, sosial, dan pelaporan, serta prinsip peningkatan kapasitas.

Untuk menurunkan prinsip-prinsip tersebut menjadi beberapa indikator dan sub-indikator penelitian, IWGFF melibatkan beberapa ahli perbankan, akademisi, pengusaha, ahli statistik, dan peneliti indeks dari berbagai lembaga penelitian dalam proses expert judgment.

Kemudian ada 5 kategori digunakan untuk menyusun pemeringkatan yaitu sangat bagus (81-100), bagus (61-80), cukup (41-60), kurang (21-40), dan sangat kurang (0-20). Namun hasil studi menunjukkan belum ada satu pun bank yang masuk dalam kategori sangat bagus.

Willem Pattinasarany, Koordinator Indonesia Working Group on Forest Finance (IWGFF) saat mempresentasikan Indeks Investasi Hijau (28/06/18). (INFID/Nindhitya Nurmalitasari)

“Sangat bagus tidak ada karena berdasarkan penilaian dan pengukuran yang dilakukan tidak ada bank yang masuk dalam interval kategorisasi nilai 81-100,” papar Willem Pattinasarany, Koordinator Indonesia Working Group on Forest Finance (IWGFF) saat mempresentasikan hasil kajian di Jakarta (28/06/18).

Willem menjelaskan hanya ada dua bank yang masuk kategori bagus yaitu Rabobank dan Citibank dengan poin masing-masing 79,08 dan 75,95. Kemudian ada 8 bank yang masuk dalam kategori cukup yakni BCA (57,27), CIMB Niaga (54,49), BNI (51,15), Mandiri (51,15), BRI (51,15), Sumitomo (49,69), Permata (42,95), Panin Bank (41,49). Sementara itu, dua bank lainnya DBS (39,82) dan Danamon (37,04) masuk dalam kategori kurang.

“Saran kami setelah melakukan penilaian ini, bank-bank yang beroperasi di Indonesia perlu segera mengadopsi dan mengimplementasikan praktik investasi hijau sebagai bagian dari praktik perbankan hijau atau green banking, yang saya pikir menjadi arus utama global perbankan dalam mendukung keberlanjutan lingkungan dan sumber daya alam,” lanjut Willem.

“Langkah konkret adalah dengan mengadopsi FPIC (Free and Prior Informed Consent) dan memiliki divisi khusus untuk menilai kelayakan risiko lingkungan dan sosial dalam pembiayaan sektor kehutanan, perkebunan sawit, dan pertambangan,” tandasnya.

Willem juga menyatakan pentingnya peran regulator dalam mendorong praktik investasi hijau. Menurutnya, masyarakat sipil ingin agar ada keseimbangan antara aktivitas perbankan dengan keberlanjutan sosial dan lingkungan.

Program Manager INFID, Siti Khoirun Nikmah. (INFID/Nindhitya Nurmalitasari)

“Kami berharap laporan indeks ini memberikan kontribusi yang nyata bagi pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals) di Indonesia untuk semua tujuan, terutama untuk tujuan terkait dengan keberlanjutan lingkungan,” ujar Program Manager INFID Siti Khoirun Nikmah saat membuka dialog.

“Secara umum berdasarkan hasil penilaian, bank-bank di nasional maupun asing itu sedang bergerak ke arah investasi yang hijau. Semoga pergerakan ini terus mengarah ke hal yang positif sehingga memperkuat pembangunan yang berkelanjutan,” kata Nikmah.

Investasi hijau dalam konteks perbankan sendiri dapat didefinisikan sebagai upaya bank dalam mengelola isu lingkungan dan sosial dengan mengurangi dampak negatif dari kegiatan investasi terhadap lingkungan dan masyarakat. Ini artinya, investasi yang dilakukan tidak hanya memperhatikan profit (keuntungan) tetapi juga people (manusia) dan planet. Hal ini sejalan dengan prinsip SDGs 2030.

Dialog dan peluncuran IIH diikuti oleh beberapa penanggap di antaranya Pakar Sustainability Reporting dan akademisi Universitas Trisakti Juniati Gunawan, Peneliti Ekonomi Hijau Dr. Harry Seldadyo, Program Manager Oxfam di Indonesia Maria Lauranti, dan sejumlah peserta termasuk media.

Baca juga:

Mempercepat Implementasi Kabupaten/Kota HAM Riset Terbaru Ungkap Kondisi Sanitasi di Pesantren