LAPORAN SURVEI KETIMPANGAN SOSIAL MENURUT PERSEPSI WARGA 2017


Sejak awal tahun 2017, berbagai media massa memberikan tingginya ketimpangan di Indonesia dan termasuk yang terburuk di dunia. Lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, melakukan survey yang dirilis di akhir tahun 2016 yang hasilnya menunjukkan bahwa ketimpangan kekayaan antara orang kaya dan miskin di Indonesia termasuk paling buruk di dunia. Berdasarkan survei lembaga itu, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan nasional.

Kondisi ini hanya lebih baik dibanding Rusia, India, dan Thailand. Sinyalemen itu sesuai juga dengan apa yang ditemukan INFID dalam survei ketimpangan sosial menurut persepsi warga. Meski menurut Pemerintah ketimpangan antara orang kaya dan orang miskin di Indonesia sedikit menurun pada September 2017, dalam survey yang dilakukan INFID pada Agustus-Oktober 2017, warga menilai ketimpangan di Indonesia meningkat. Seperti dua tahun sebelumnya, di tahun 2017, INFID melakukan pengukuran penilaian warga mengenai ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia selama tahun 2016/2017.

Hasilnya menunjukkan bahwa dalam penilaian warga ada kenaikan ketimpangan sosial. Indeks ketimpangan yang diperoleh lebih baik dari tahun sebelumnya. Indeks ketimpangan berubah dari 4 menjadi 5,6. Artinya setiap warga menilai ada 5-6 ranah yang timpang di Indonesia. Indeks ketimpangan di tahun 2017 tergolong tinggi.

INFID melakukan pengukuran ketimpangan sosial menurut persepsi warga dengan didasari konsep keadilan sosial. Secara sederhana, ketimpangan sosial adalah perbedaan penghasilan, sumber daya, kekuasaan dan status di dalam dan di antara masyarakat (Naidoo dan Wills, 2008). Secara lebih rinci, ketimpangan sosial merujuk pada tingkat perbedaan kategori sosial orang (menurut karakteristik seperti jenis kelamin, usia, kelas, dan etnis) dalam hal akses ke berbagai kemaslahatan sosial, seperti tenaga kerja pasar dan sumber penghasilan, sistem pendidikan dan kesehatan, serta bentuk-bentuk representasi dan partisipasi politik.