Gerakan BDS: Upaya Mendesak Komitmen Perusahaan terhadap HAM 

Gerakan BDS: Upaya Mendesak Komitmen Perusahaan terhadap HAM 

Oleh M. Faisal Javier

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20231114123743-92-1023951/mengenal-fenomena-bds-gerakan-boikot-perusahaan-pendukung-israel

Seruan boikot kepada berbagai merek dagang mengemuka di tengah serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina, yang telah memakan korban jiwa sekitar 17 ribu penduduk Palestina hingga 7 Desember 2023. Perusahaan-perusahaan tersebut masuk daftar boikot ditengarai mendukung penjajahan Israel terhadap Palestina.

Beberapa merek dagang ternama yang menjadi sasaran boikot antara lain McDonald’s, Starbucks, Burger King, dan Puma. Yahoo Finance pada 5 Desember 2023 melaporkan bahwa nilai saham Starbucks mengalami penurunan selama 11 hari berturut-turut di tengah wacana boikot serta aksi mogok yang dilancarkan oleh serikat pekerjanya.

Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) adalah salah satu pionir utama dalam gerakan boikot tersebut. Berdiri sejak 2005, BDS menyebut bahwa gerakan tersebut terinspirasi dari gerakan anti-Apartheid di Afrika Selatan pada abad ke-20. Menurut BDS, gerakan boikot, terutama ekonomi, adalah salah satu cara untuk menekan Israel lantaran negara tersebut sangat bergantung pada perdagangan bebas di level internasional.

Sesuai namanya, ada tiga jenis kampanye yang diserukan oleh BDS untuk menghadapi penjajahan Israel. Boikot berarti menarik dukungan terhadap rezim apartheid Israel, keterlibatan lembaga-lembaga olahraga, budaya dan akademik Israel, serta dari semua perusahaan Israel dan internasional yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia Palestina. Divestasi berarti mendesak bank, dewan lokal, gereja, dana pensiun dan universitas untuk membatalkan investasi mereka di Israel dan semua perusahaan Israel dan internasional yang mendukung kebijakan apartheid Israel. Kemudian sanksi berupa menekan pemerintah-pemerintah agar memenuhi kewajiban hukum mereka untuk mengakhiri kebijakan apartheid Israel—bukan membantu atau membantu pemeliharaannya—dengan melarang bisnis di pemukiman ilegal Israel, mengakhiri perdagangan militer dan perjanjian perdagangan bebas, serta menangguhkan keanggotaan Israel di forum internasional seperti badan-badan PBB dan FIFA.

Keberhasilan BDS

Situs BDS menghimpun sejumlah keberhasilan gerakan tersebut di sektor ekonomi. Pada 2015, laporan PBB menyebut bahwa gerakan BDS salah satu faktor utama yang menurunkan nilai investasi asing (FDI) di Israel pada 2014 sebesar 46 persen dibanding tahun 2013. Studi Rand Corporation juga menyebut bahwa gerakan boikot dapat menghasilkan kerugian miliar dolar AS bagi perekonomian Israel.

Kemudian perusahaan asal Prancis, Veolia, menarik diri dari keterlibatan mereka di jaringan kereta ringan di Yerusalem pada 2015 setelah menjadi target boikot BDS selama tujuh tahun. Selama menjadi target boikot, Veolia gagal memenangi berbagai tender proyek utilitas dengan nilai total $20 miliar di kota-kota di AS, Eropa, dan Kuwait karena investasi mereka di Israel. Hal ini karena kesuksesan para penggerak boikot untuk membujuk dewan-dewan kota di negara-negara tersebut untuk melarang Veolia terlibat dalam tender di kota mereka.

Selain Veolia, perusahaan-perusahaan seperti  Orange, G4S, General Mills, dan CRH juga menarik investasi mereka dari Israel setelah masuk dalam target boikot BDS. Tak hanya itu, kampanye divestasi BDS juga berhasil memaksa bank swasta asal Eropa seperti Nordea, Danske Bank, serta orang-orang kaya seperti George Soros dan Bill Gates untuk menjual kepemilikan saham mereka di perusahaan-perusahaan yang menjadi target langsung BDS.

Selain sektor ekonomi, kampanye BDS juga menuai kesuksesan di bidang budaya dan akademik. Sejumlah figur ternama secara terbuka mendukung gerakan boikot budaya seperti mantan vokalis Pink Floyd, Roger Waters, dan rapper Chuck D. Artis-artis ternama juga membatalkan penampilan mereka di Israel seperti U2, Bjork, dan Snoop Dogg. 

Kemudian di bidang akademik, sejumlah universitas membatalkan kerja sama mereka dengan universitas di Israel yang berpartisipasi dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap penduduk Palestina, salah satunya University of Johannesburg yang membatalkan kerja sama dengan Ben-Gurion University (BGU) pada 2011. BGU ditengarai terlibat dalam pelanggaran HAM yang dilakukan Israel, salah satunya berupa pencurian air dari tanah Palestina.

Upaya Mendesak Komitmen Perusahaan terhadap HAM 

Gerakan BDS menjadi salah satu contoh upaya masyarakat sipil untuk mendesak komitmen perusahaan terhadap HAM. Apalagi pelanggaran HAM yang dilakukan Israel terhadap penduduk Palestina telah berlangsung lebih dari setengah abad.

PBB telah menyediakan prinsip-prinsip panduan terkait bisnis dan HAM, yang di dalamnya terdapat pula penjelasan mengenai tanggung jawab perusahaan untuk menghormati HAM dalam level dasar (foundational) dan operasional. Pada level operasional, disebut bahwa perusahaan harus melakukan uji tuntas HAM  atau human rights due diligence. Prosesnya harus mencakup penilaian dampak aktual dan potensial terhadap HAM, mengintegrasikan dan menindaklanjuti temuan, melacak respon, dan mengomunikasikan bagaimana dampak tersebut ditangani.

Sumber: https://bdsmovement.net/Act-Now-Against-These-Companies-Profiting-From-Genocide

Perusahaan-perusahaan asal Eropa yang menjadi target utama boikot BDS seperti Siemens, Hewlett-Packard (HP), AXA, Puma, dan Carrefour telah menyatakan komitmen mereka terhadap uji tuntas HAM dalam pernyataan resmi di situs mereka. Namun, mereka tidak menyinggung satu kata pun soal pelanggaran HAM yang dilakukan Israel terhadap penduduk Palestina.

BDS menyebut bahwa perusahaan-perusahaan tersebut menjadi sasaran boikot langsung karena aktivitas ekonomi mereka berupa penyediaan infrastruktur dan layanan, investasi, atau kerja sama mereka dengan perusahaan atau badan resmi di Israel. Sebagai contoh, Siemens adalah kontraktor utama jaringan listrik bawah laut yang menghubungkan pemukiman ilegal Israel di Palestina dengan Israel. Kemudian Puma menjadi penyedia resmi pakaian tim nasional sepak bola Israel, yang beberapa pemainnya juga berasal dari klub-klub yang bermarkas di pemukiman ilegal Israel, serta HP yang menjadi penyedia komputer bagi militer Israel dan layanan jaringan bagi kepolisian Israel.