Ekonomi Perempuan di Era Pandemi: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Di antara pekerja informal, perempuan yang paling banyak tidak mendapatkan tunjangan dengan prosentase 80 persen, sedangkan pekerja laki-laki 63 persen yang tidak mendapat tunjangan

Pandemi Covid-19 ternyata tidak hanya merupakan masalah kesehatan saja. Pandemi yang diakibatkan oleh virus corona ini juga memberikan dampak serius terhadap sektor ekonomi. Salah satu pihak yang paling merasakan dampak krisis ini adalah perempuan. Meskipun sebelum pandemi kondisi ekonomi mereka sudah rendah, pandemi semakin memperlebar jurang ketimpangan tersebut.

World Economic Forum (WEF) dalam laporan Kesenjangan Gender Global 2021 menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 telah memundurkan capaian kesetaraan gender secara global. Dibutuhkan waktu setidaknya 133 tahun untuk mencapai kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Di Indonesia, dampak pandemi terasa sekali terhadap akses pekerjaan dan ekonomi, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor informal. Selama pandemi, 46% pekerja informal laki-laki kehilangan pekerjaannya, sedangkan perempuan 39% persen yang mengalami. Kondisi kehilangan pekerjaan semakin berakibat buruk bagi mereka tidak mendapat tunjangan. Di antara pekerja informal, perempuan yang paling banyak tidak mendapatkan tunjangan dengan prosentase 80 persen, sedangkan pekerja laki-laki 63 persen yang tidak mendapat tunjangan (UN WOMEN, 2021).

Pandemi Covid-19 turut menambah beban kerja di sektor domestik seperti rumah tangga, perawatan, dan pengasuhan. Peningkatan beban kerja ini membuat individu memiliki jam kerja yang meningkat, mulai dari pekerjaan utamanya yang berbayar hingga pekerjaan domestik tak berbayar yang semakin banyak selama pandemi. Dengan keadaan tersebut, sayangnya peran anggota keluarga dalam kerja perawatan tidak jarang hanya dibebankan kepada perempuan, baik itu ibu atau anak perempuan. Perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan karena beban ganda yang semakin meningkat selama pandemi berlangsung. Belum lagi kecenderungan perempuan untuk kehilangan pekerjaan berbayar yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang dapat membuat mereka masuk dalam kelompok tidak berdaya. Keadaan tersebut semakin memperburuk ketidaksetaraan gender yang ada.

Perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan karena beban ganda yang semakin meningkat selama pandemi berlangsung. Belum lagi kecenderungan perempuan untuk kehilangan pekerjaan berbayar yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang dapat membuat mereka masuk dalam kelompok tidak berdaya.

Streotipe bahwa laki-laki lebih unggul daripada perempuan semakin terlihat di era pandemi yang menyebabkan krisis ekonomi. Banyak kantor dan usaha yang terpaksa mengurangi jumlah pekerjanya demi menekan pengeluaran. Sebagian besar pekerja yang dirumahkan atau diputus kontrak kerjanya adalah perempuan. Padahal, banyak dari mereka yang merupakan single parents atau tulang punggung keluarga.

Sektor yang paling banyak melakukan PHK adalah sektor kesehatan dan sosial yang 70 persen pekerjanya adalah perempuan. Menurut studi yang dilakukan McKinsey, pekerja perempuan 1,8 kali lebih rentan di-PHK dibanding laki-laki. Hal ini dikarenakan posisi mereka dalam pekerjaan dianggap tidak terlalu strategis. Oleh karena itu, perusahaan tidak perlu berpikir dua kali untuk melepaskan pekerja perempuan. Kehilangan pekerjaan terjadi pada perempuan yang bekerja di sektor formal maupun informal. Menurut data UN Women, 40 persen perempuan yang bekerja di sektor formal di dunia terdampak selama pandemi ini. Sedangkan dari sektor informal, 60 persen dari total 740 juta pekerja perempuan telah kehilangan pekerjaannya. Kondisi ini sangat mempengaruhi pendapatan ekonomi mereka.

Menurut studi yang dilakukan McKinsey, pekerja perempuan 1,8 kali lebih rentan di-PHK dibanding laki-laki. Hal ini dikarenakan posisi mereka dalam pekerjaan dianggap tidak terlalu strategis.

Di Indonesia berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan per Januari 2021 menunjukkan ada sebanyak 623.407 perempuan yang dirumahkan atau diputus hubungan kerja selama pandemi. Padahal beban kerja perempuan jauh lebih berat jika dibandingkan laki-laki. Adapun beban tambahan yang dirasakan perempuan akibat pandemi adalah penurunan pendapatan, peningkatan beban mengurus rumah akibat sistem kerja WFH, harus mendampingi proses pembelajaran anak yang belajar secara online, dan meningkatnya angka kekerasan dalam rumah tangga.

Sudah Jatuh Tertimpa Pandemi

Selain mengakibatkan kondisi ekonomi perempuan babak belur, pandemi juga meningkatkan angka kekerasan. Ada banyak kasus yang menimpa perempuan selama persebaran virus Corona. Angka kekerasan terhadap perempuan meningkat hingga lima kali lipat selama pandemi. Sebelum pandemi, pada 2019, kekerasan perempuan tercatat sebanyak 1.913 kasus, kemudian angkanya meningkat drastis menjadi 5.551 pada 2020 (Komnas Perempuan). Angka tersebut didominasi oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Menurut penelusuran Komnas Perempuan, kasus KDRT paling banyak terjadi pada keluarga berpenghasilan rendah dan yang bekerja di sektor informal.

Sebelum pandemi, pada 2019, kekerasan perempuan tercatat sebanyak 1.913 kasus, kemudian angkanya meningkat drastis menjadi 5.551 pada 2020 (Komnas Perempuan, 2020)

Lain kasus rumah tangga, lain pula kasus anak. Pernikahan anak selama pandemi juga mengalami lonjakan. Pada tahun 2020 saja, angka pernikahan anak di bawah umur meningkat tiga kali lipat dibanding tahun 2019. Angka yang dimiliki Komnas Perempuan menunjukkan pada 2020 ada sebanyak 64.211 kasus pernikahan anak. Padahal pernikahan anak pada 2019 masih di angka 23.126 kasus.

Berkurangnya aktivitas harian anak karena menjalani sekolah daring juga menjadi faktor yang mendorong terjadinya pernikahan anak usia dini. Padahal, pernikahan dini sering kali menghadapkan anak pada berbagai masalah, mulai dari terganggunya pendidikan, masalah kesehatan reproduksi hingga kematian ibu dan anak saat melahirkan. Kondisi itu diperparah dengan masalah rumah tangga, minimnya kesempatan kerja, hingga dampak kemiskinan yang menurunkan kualitas hidup mereka. Kondisi lebih miris terjadi pada keluarga perempuan rentan seperti penyandang disabilitas, perempuan kepala keluarga, perempuan pekerja rumah tangga, dan sebagainya. Situasi pandemi telah memicu permasalahan dalam rumah tangga dan seringkali perempuan menjadi pihak yang dirugikan. Akibat peran anggota keluarga yang tidak seimbang, beban perempuan menjadi bertambah seiring dengan meningkatnya tugas pengasuhan dan pengajaran anak karena kebijakan sekolah online selama pandemi. Beban semakin bertambah dengan adanya pembatasan sosial yang memangkas ruang gerak perempuan.

Upaya Bangkit dari Krisis

Kondisi ekonomi perempuan yang terdampak akibat pandemi Covid-19 tampak mulai membaik. Perempuan kepala keluarga atau perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga perlahan mulai bangkit membantu perekonomian keluarganya. Mereka bangkit dengan memulai usaha yang dikuasai. Mereka yang jago memasak mencoba berbisnis kuliner secara door to door. Bagi yang pandai menjahit menjajal bisnis fesyen atau menjadi reseller busana. Perlahan perekonomian perempuan mulai bangkit dan tumbuh, terutama pada industri rumahan. Membaiknya kondisi ekonomi perempuan ini selaras dengan data Kementerian Perindustrian yang menyebutkan total pengusaha sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang berjumlah 4,4 juta, 47.64 persen di antaranya dijalankan oleh pengusaha perempuan.

Hampir setengah dari jumlah populasi Indonesia adalah perempuan. Oleh karena itu, perempuan bisa menjadi faktor penting untuk keluar dari situasi krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19

Sementara dari segi penyerapan tenaga kerja IKM yang mencapai 10,3 juta orang, 48,2 persen merupakan tenaga kerja perempuan. Meskipun secara angka perempuan belum dominan, tapi data baru tersebut menunjukkan ada peningkatan yang signifikan. Ke depan, kondisi perempuan di tengah situasi pandemi harus terus diperhatikan. Sebab hampir setengah dari jumlah populasi Indonesia adalah perempuan. Oleh karena itu, perempuan bisa menjadi faktor penting untuk keluar dari situasi krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Referensi:

  1. Pandemi Covid-19 menambah beban bagi perempuan dan 'bisa menghapus perjuangan 25 tahun dalam menciptakan kesetaraan gender'. BBC diakses pada 19/10/2021. https://www.bbc.com/indonesia/dunia-55072850
  2. Virus corona: Bagaimana Covid-19 pengaruhi kehidupan sosial perempuan di Asia. BBC diakses pada 19/10/2021. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51717312
  3. DPR RI. Peluang Dan Tantangan Perempuan Di Era Pandemi Covid-19.
  4. UN WOMEN, 2021. Menilai Dampak COVID-19 terhadap Gender dan Pencapaian Tujuan Pengembangan Berkelanjutan di Indonesia. https://data.unwomen.org/sites/default/files/inline- files/Report_Counting%20the%20Costs%20of%20COVID-19_Bahasa.pdf
  5. Komnas Perempuan. Survei 'Menilai Dampak Covid-19' : Perempuan Memikul Beban Lebih Berat Dibandingkan Laki-Laki. https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2921/survei- menilai-dampak-covid-19-perempuan-memikul-beban-lebih-berat-dibandingkan-laki-laki
  6. Media Indonesia. Dampak Covid-19 pada Ekonomi Perempuan. Diakses pada 19/10/2021 https://mediaindonesia.com/opini/374333/dampak-covid-19-pada-ekonomi-perempuan
  7. McKinsey. Why Gender Diversity at the top Remains Challenge. https://www.mckinsey.com/business-functions/organization/our-insights/why-gender-diversity- at-the-top-remains-a-challenge
  8. World Economic Forum, 2021. Global Gender Gap Report 2021. https://www3.weforum.org/docs/WEF_GGGR_2021.pdf