MDGs

OK-IMGP7652-REV

AGENDA PEMBANGUNAN PASCA 2015

MENGAPA ADA AGENDA PEMBANGUNAN PASCA 2015?
Memasuki tahun 2015, ternyata belum semua komitmen MDGs bisa diraih. Banyak negara yang masih bergulat dengan masalah kemiskinan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, lingkungan hidup dan sanitasi. Di sisi lain kemitraan global yang sedianya diprakarsai oleh negara-negara maju tidak berjalan maksimal. Kemiskinan dan ketimpangan masih menjadi masalah bersama.

BAGAIMANA PENCAPAIAN MDGS DI INDONESIA? 

Di Indonesia tingkat kematian ibu melahirkan belum sanggup diturunkan secara signifikan. Selain itu air bersih, santasi, masih jadi masalah. Jumlah orang miskin tidak menurun secara signifikan. Situasi yang sama juga terjadi di level global, meskipun kemiskinan ekstrem berkurang namun pencapaiannya tidak merata.

BELAJAR DARI MDGS

Mengapa Millenium Development Goals gagal? Karena target-targetnya ditetapkan secara sepihak oleh PBB. Belajar dari kegagalan mencapai MDGs ini maka disusunlah Agenda Pembangunan Pasca 2015 dengan cara yang lebih partisipatif.

Beberapa kesepakatan dalam pelaksanaan MDGs juga tidak berhasil dipenuhi. Salah satu upayanya PBB kembali memprakarsai Tujuan Pembangunan Setelah 2015 (Post 2015 Development Agenda). Kegiatan ini dimulai dengan rangkaian konsultasi dari berbagai sektor di berbagai negara, termasuk Indonesia. Manfaat agenda pembangunan pasca 2015 ini secara moral membuat Indonesia menjadi bagian dari gerakan global dan menjadi alat untuk memperoleh dukungan dalam upaya menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi indonesia. Satu lagi bisa mejadi panduan teknis ukuran capaian pembangunan di tingkat nasional.

SEJAUH MANA INFID TERLIBAT DALAM ADVOKASI POST-2015?

Sejak Januari 2013 INFID turut memprakarsai dialog dan konsultasi pembangunan pasca 2015. Konsultasi ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan membangun usulan terhadap prioritas agenda pembangunan pasca 2015. Usulan dari hasil dialog dan konsultasi tersebut diharapkan diterima menjadi agenda pembangunan Indonesia, sekaligus kontribusi Indonesia dalam tatanan global dalam perundingan penyusunan agenda pembangunan pasca 2015.

INDONESIA DAN PERUMUSAN AGENDA PEMBANGUNAN PASCA 2015

Pada tahun 2013 Sekjen PBB menunjuk Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf sebagai co-chairs High Level Panel of Eminent Persons (HLP-EP) on
Post 2015 Development Agenda. HLP-EP memiliki 23 anggota dan 1 ex-officio. Tugas utamanya adalah memberikan rekomendasi kepada Sekjen PBB untuk Agenda Pembangunan Pasca 2015. Setelah bekerja selama satu tahun HLP-EP menyampaikan laporannya berisi 12 Pilar Agenda Pembangunan.

INFID juga aktif di pertemuan-pertemuan internasional terkait Agenda Pembangunan Pasca 2015. Misalnya sidang PBB di New York September 2013 dan Pertemuan open working group on sustainable group di New York February 2014.

INFID juga terlibat dalam jaringan-jaringan internasional untuk Agenda Pembangunan Pasca 2015 yang bernama BEYOND 2015. Pada advokasi tingkat nasional INFID mendorong agar tujuan-tujuan yang sudah ada dalam Agenda Pembangunan Pasca 2015 menjadi prioritas pembangunan Indonesia ke depan. Misalnya melalui dialog kebijakan dan konsultasi publik.

Langkah selanjutnya adalah mengupayakan agar semua pihak bisa terlibat dan bagaimana agar Agenda Pembangunan Pasca 2015 bisa bermanfaat bagi seluruh masyarakat. Tak terkecuali bagaimana inklusifitas bisa tercapai, mencakup semua kelompok rentan, seperti perempuan, difabel, kaum miskin kota, masyarakat adat, kelompok penghayat & agama minoritas.