Anak Muda dan Pembuat Kebijakan Bicara Toleransi di Talkshow INFID

  • Wednesday, 21 February 2018 18:06
  • Artikel , Berita
  • 591x dibaca.

INFID, Jakarta – Menjaga perdamaian di tengah maraknya isu intoleransi di Indonesia saat ini adalah tugas yang berat. Pemerintah tidak akan kuat apabila dibiarkan bekerja sendiri. Partisipasi segenap elemen masyarakat, terutama anak muda, mutlak digalakkan. Hal ini pulalah yang mendorong INFID untuk meningkatkan pelibatan anak muda dalam berbagai upaya mempromosikan nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan kebhinekaan.

Salah satunya adalah melalui kegiatan talkshow bertajuk “Bincang-Bincang Toleransi dan Perdamaian di Bulan Kasih Sayang: Anak Muda Bertemu Pembuat Kebijakan” yang digelar di Rumah Kembang Kencur, Jakarta, pada 21 Februari 2018.

Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan anak muda ini menghadirkan beberapa pembicara kunci di antaranya kolumnis muda Kalis Mardiasih, Roy Septa Abimanyu dari Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, dan perwakilan pemerintah daerah yakni Wakil Bupati Wonosobo Agus Subagyo serta Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro Heru Sugiharto.

Beberapa topik pembahasan yang mengemuka pada diskusi yang dimoderatori oleh Lia Toriana, aktivis antikorupsi sekaligus penggagas Youth Proactive, antara lain menguatnya tren intoleransi yang terjadi di Indonesia belakangan ini seperti maraknya persekusi dan konten-konten intoleran di media sosial. Menurut Kalis Mardiasih yang juga merupakan seorang aktivis pluralisme, sebenarnya banyak masyarakat Indonesia yang setuju dengan toleransi, sayangnya beberapa dari mereka hanya toleran dalam pikiran tetapi tidak dalam perbuatan.

Selain itu, para peserta diskusi juga menyoroti pentingnya peran pemerintah di tingkat pusat maupun daerah dalam menangani fenomena intoleransi dan radikalisme berbasis agama. Tantangan ini diamini oleh Roy Septa Abimanyu, Staf Ahli Madya Deputi IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi KSP yang mengakui bahwa isu intoleransi dan radikalisme memang sedang menjadi masalah serius yang dihadapi pemerintah. Untuk itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, utamanya kalangan anak muda yang juga rentan menjadi sasaran penyebaran ideologi-ideologi radikal dan intoleran.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan pemerintah daerah Bojonegoro dan Wonosobo berkomitmen untuk menjamin toleransi dan mengawal nilai-nilai Pancasila di daerah mereka masing-masing. Mereka juga berjanji untuk berusaha memenuhi rasa keadilan dan membuka ruang dialog bagi masyarakat.

Pada akhir acara, 10 anak muda peserta Human Rights Cities Youth Fellowship INFID meluncurkan rekomendasi mereka untuk para pembuat kebijakan. Para anak muda dari tiga kota di Indonesia yakni Jakarta, Bojonegoro, dan Wonosobo ini mendesak pemerintah untuk memastikan pelibatan anak muda sebagai elemen penting dalam pencegahan intoleransi serta penguatan HAM dan demokrasi di Indonesia.

“Diskusi ini diharapkan dapat menjembatani aspirasi anak muda yang peduli dengan toleransi dan perdamaian dengan pembuat kebijakan di tingkat nasional maupun daerah,” kata Senior Program Officer HAM dan Demokrasi, Mugiyanto, saat membuka diskusi toleransi dan perdamaian.

Tak hanya diisi dengan diskusi, acara talkshow ini juga menampilkan pertunjukan seni di antaranya pertunjukan tari dan puisi oleh William Umboh dan musik dari Beda. Selain itu, video-video bermuatan toleransi dan perdamaian karya young fellows juga turut diputar di sela-sela acara.