COVID-19, Anak Muda, dan Agama?


Siaran Pers: Umat Beragama dan Anak Muda harus Memperluas Makna Ibadah untuk Mencegah Penyebaran COVID-19

COVID-19 tidak hanya menghasilkan dampak terhadap kesehatan dan ekonomi, tetapi juga anak muda dan agama. Fenomena super-spreaders yang datang dari kluster kegiatan-kegiatan keagamaan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Korea Selatan dan India. Sebab dari fenomena ini salah satunya adalah adanya fragmentasi pemaknaan agama terhadap COVID-19. Di saat yang bersamaan, anak muda saat ini menjadi kelompok yang rentan terpapar berita palsu di media sosial yang mengatasnamakan agama, sekaligus juga menjadi agen yang melakukan gerakan-gerakan kemanusiaan untuk membantu mengatasi ekses dari pandemi.

INFID bersama Yayasan LKiS mengadakan Diskusi Daring, “COVID-19, Anak Muda dan Agama” pada Selasa, 19 Mei 2020. Diskusi ini menghadirkan tiga orang narasumber, Dyah Ayu Kartika (IPAC), Prof. Dr. H. Mujiburrahman (Rektor UIN Antasari, Banjarmasin) dan Rifa Mufidah (Jaringan Gusdurian). Diskusi ini dimoderatori oleh Shaffira Gayatri (SFCG).

Super-spreaders adalah istilah untuk menjelaskan adanya seseorang/kelompok orang yang menyebabkan penyebaran COVID-19 dalam jumlah banyak di suatu wilayah. Dyah mencatat setidaknya ada 6 kasus super-spreaders dari kegiatan keagamaan di Indonesia, seperti Ijtima Jamaah Tabligh di Gowa dan Seminari Bethel di Petamburan. Sebagian kasus bahkan terjadi sebelum pasien 1 COVID-19 ditemukan di Indonesia. Ini merupakan tantangan bagi upaya pencegahan COVID-19 yang disebabkan oleh beberapa hal, seperti inkonsistensi peraturan pemerintah, masyarakat yang semakin nekat, Ramadan yang secara kultur biasa digunakan masyarakat sebagai momen untuk melakukan praktik keagamaan komunal yang lebih intens, di samping budaya mudik yang saat ini dibatasi.

Yang menarik, Prof Mujibburahman juga memaparkan beberapa skenario dampak COVID-19 terhadap agama di masa depan. “COVID-19 bisa berdampak pada kelompok agama transnasional. Di masa depan, citranya bisa merosot atau justru sebaliknya. Begitupun dengan praktik keagamaan komunal dan personal. Bisa jadi praktik agama personal menjadi semakin berkembang, atau justru karena praktik keagamaan komunal dibatasi, di masa depan akan menjadi semakin membludak”, paparnya.

Saat ini umat beragama harus bisa memperluas pemaknaan ibadah, tidak hanya sebatas ritual komunal saja. Membantu orang yang paling terdampak COVID-19 juga merupakan ibadah. “Saat ini umat beragama dapat melakukan “jihad” kemanusiaan seperti mematuhi PSBB dan berempati terhadap pekerja medis”, tambahnya.

Rifa memaparkan, Jaringan Gusdurian melalui gerakan #SalingJaga telah melakukan contoh baik. Gerakan oleh mayoritas anak muda lintas iman ini telah menggalang dana untuk membantu pekerja informal dan kelompok rentan yang terdampak secara ekonomi. “Per-hari ini telah terkumpul 5.6 miliar rupiah dan sudah ada 20.000 lebih paket sembako yang didistribusikan.” Gerakan ini juga membuka 67 posko yang tersebar di seluruh Indonesia dan 1 di Malaysia. Saat ini ada lebih dari 1.000 relawan yang terlibat. “Anak muda bisa berkontribusi dengan banyak cara, tidak hanya dengan uang, tetapi juga waktu dan tenaga”, paparnya.


Narahubung: Lola Loveita Senior Program Officer HAM & Demokrasi INFID [email protected]