Siaran Pers: Pekerjaan Perawatan dan Kontribusinya terhadap Perekonomian: Upaya Mengurangi Ketimpangan di Indonesia

  • Thursday, 23 January 2020 10:19
  • Siaran Pers
  • 445x dibaca.

Siaran Pers: Pekerjaan Perawatan dan Kontribusinya terhadap Perekonomian: Upaya Mengurangi Ketimpangan di Indonesia Kamis, 23 Januari 2020 Perpustakaan Nasional

Tanggal 21-24 Januari 2020 Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum - WEF) akan diadakan di Davos, Swiss. Pada pertemuan ini, akan berkumpul kepala pemerintahan dan pimpinan dari perusahaan global terkemuka ditambah dengan tokoh sosial-budaya dunia untuk mendiskusikan masalah perekonomian dunia, yang diharapkan dapat mengurangi ketimpangan sosial-ekonomi di dunia. Sementara itu, saat ini ketimpangan berada pada tingkat ekstrem dengan kekayaan yang terkonsentrasi di tangan segelintir orang. Saat ini, 1% orang terkaya di dunia memiliki kekayaan dua kali lipat dari 6,9 milliar orang lainnya (Oxfam Time to Care Report, 2020). Milyaran orang berjuang untuk tetap bertahan. Kesenjangan ekstrim antara kaya dan miskin semakin mempertajam segregasi di masyarakat.

Di Indonesia, terutama dalam hal ekonomi, ketimpangan antara perempuan dan laki-laki masih sangat besar. Dalam laporan Pembangunan Manusia Berbasis Gender oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) (2017), dijelaskan bahwa ketimpangan gender dalam bidang ekonomi termasuk yang paling besar. Hal tersebut dilihat dari besarnya ketimpangan pengeluaran dan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) antara perempuan dan laki-laki. Menurut data Bappenas, jumlah pekerja laki-laki di Indonesia mencapai 80 juta, sedangkan pekerja perempuan hanya 50 juta (Agustus 2018).

Upaya pencapaian kesetaraan gender sudah menjadi salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) yaitu nomor lima. Secara umum pemerintah berupaya untuk menghilangkan ketidakadilan gender dengan merumuskannya melalui beberapa indikator tujuan lima agar dapat membantu proses tercapainya tujuan yang telah tercantum dalam Pedoman Teknis Penyusunan RAN TPB (Bappenas, 2016). Selain itu, pada tahun 2020 ini pelaksanaan SDGs memasuki tahun kelima sejak dicanangkan tahun 2015. Karenanya, tahun 2020 merupakan saat yang tepat untuk melihat kembali target capaian dari Agenda Pembangunan 2030 ini dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan no one left behind yang merupakan target SDGs.

Dari beberapa indikator yang terdapat dalam Tujuan 5 SDGs, terdapat poin-poin yang berhubungan dengan kesetaraan di dunia kerja. Indikator tujuan lima yang dimaksud adalah mengakhiri diskriminasi terhadap perempuan di mana pun; mengakui dan menghargai unpaid care dan pekerjaan rumah tangga melalui kebijakan perlindungan sosial serta menggalakan pentingnya tanggung jawab bersama dalam rumah tangga; menjamin partisipasi penuh dan efektif perempuan serta kesempatan yang setara di semua tingkat pengambilan keputusan; dan menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan di ruang publik, sehingga dengan menghilangkan diskriminasi dan kekerasan berbasis gender semua orang mendapatkan pekerjaan yang produktif dan layak.

Kaitannya dengan tema diskusi siang hari ini, Pekerjaan Perawatan (care work) menurut ILO (2018) terdiri dari dua kegiatan yang tumpang tindih, yakni aktivitas perawatan yang personal dan relasional, seperti merawat anak-anak, lansia, merawat yang sakit, merawat penyandang disabilitas, serta kegiatan keperawatan yang tidak langsung, seperti memasak atau membersihkan rumah, mencuci, mengambil air dan sebagainya. Pekerjaan Perawatan ini sebagian besar merupakan pekerjaan yang tidak dibayar ataupun dibayar rendah. Hal ini menjadi permasalahan, karena menurut data dari ILO (2018) sebagian besar dari para pekerja perawatan ini adalah perempuan, anak perempuan, atau bahkan berasal dari kelompok rentan. Pekerjaan perawatan sangat penting untuk masyarakat dan ekonomi kita. Sayangnya, kerja perawatan yang begitu penting tidak dianggap sebagai kerja produktif sehingga jarang dihargai dan divaluasi secara ekonomi.

Masalah-masalah tersebut menunjukkan bagaimana prekonomian kita dibangun di atas pekerjaan perawatan yang dilakukan oleh miliaran perempuan di dunia yang tidak dibayar atau dibayar rendah. Terdapat hubungan yang erat antara pekerjaan perawatan dan ketimpangan ekonomi dan menunjukkan bagaimana perempuan di manapun - terutama perempuan termiskin – telah memberikan subsidi besar-besaran untuk perekonomian kita, memasak, membersihkan, merawat, namun diremehkan dan tidak diakui, dimana pekerja rumah tangga menjadi pekerjaan dengan bayaran dan perlakuan terburuk di dunia.

Kita membutuhkan perekonomian yang dirancang untuk bekerja bagi semua orang, yang mendistribusikan kekayaan secara adil; perekonomian yang menghargai hal-hal yang bernilai - termasuk pekerjaan perawatan yang dilakukan oleh jutaan perempuan dan anak perempuan. Pekerjaan perawatan, baik yang dilakukan tanpa dibayar atau sebagai pekerjaan berbayar, sangat diperlukan untuk kesejahteraan semua orang, bagi masyarakat dan perekonomian kita. Nilai pekerjaan perawatan yang besar ini perlu diakui dan didukung kebijakan yang berani untuk mengurangi, mendistribusikan kembali dan membayar pekerjaan ini secara adil, demi membangun perekonomian yang peduli terhadap semua warga negara.

Narahubung: Tatat, Program Manager INFID ([email protected])