PRESS RELEASE KOMPETISI ESAI DAN VIDEO UNTUK PENYEBARAN KONTEN ISLAM DAMAI

poster-kompetisi-essay

NU Online dan INFID (International NGO Forum on Indonesia Development) bermaksud mengumumkan kepada publik mengenai kesempatan untuk mengikuti kompetisi esai dan multimedia yang bertujuan mengampanyekan Islam ramah, moderat dan damai.

Direktur Eksekutif INFID Sugeng Bahagijo mengatakan, penanggulangan atau pengurangan intoleransi di Indonesia lebih efektif jika masyarakat dan warga ikut serta secara aktif. Tidak mungkin pemerintah dapat melakukannya sendiri, karena masyarakat memiliki ide-ide dan solusi-solusi, dan lebih dari itu memiliki energi yang positif untuk bisa mengimbangi dan melawan intoleransi dan ekstremisme.

“INFID bangga dan merasa terhormat bisa bekerja sama dengan NU Online untuk membuka kesempatan seluas-luasnya bagi warga Indonesia, termasuk kaum muda dari berbagai latar belakang untuk bisa merajut dan merawat Indonesia yang damai dan toleran melalui kompetisi esai dan multimedia ini,” ujar Sugeng.

Sugeng mengungkapkan, NU Online dan INFID prihatin bahwa Indonesia sekarang ini masih diwarnai dan didera oleh tindak-tindak kekerasan yang bersumber dari sikap intoleran, ekstremisme dan radikalisme yang berakibat menipisnya kohesi sosial dan gotong royong di antara masyarakat. Praktik yang seperti ini tentu bertentangan dengan semangat ke-Indonesia-an dan Islam yang melindungi semua (Rahmatan lil ‘Alamin).

Sementara itu, Pemimpin Redaksi NU Online Achmad Mukafi Niam menerangkan bahwa selama ini NU Online sebagai corong media yang konsisten dengan konten-konten Islam damai terus berusaha melakukan penanggulangan radikalisme di dunia maya. Dia menilai, selama ini dunia maya digunakan sebagai alat (instrumen) paling strategis untuk menyebarkan narasi-narasi ekstremisme, terutama kepada anak-anak muda yang sebagian besar pengguna media sosial.

Narasi-narasi ekstermisme ini berdampak pada munculnya tindakan terorisme sebagai akibat dari pemahaman agama yang cenderung eksklusif atau tertutup. Selain itu, kata Mukafi Niam, media sosial sebagai basis penyebaran radikalisme juga digunakan sebagai alat propaganda oleh kelompok radikalis, termasuk oleh kelompok teroris yang mengatasnamakan dirinya sebagai Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS).
Mereka secara nyata menyebarkan keresahan dan ketakutan kepada warga dunia atas kekejian yang mereka lakukan terhadap orang atau kelompok yang tidak mengikuti paham NIIS dengan membunuhnya secara membabi buta. Kekejian tersebut tidak hanya dilakukan mereka kepada umat Islam, tetapi juga kepada umat agama lain.

“Bahkan pada tahun 2014, sebanyak 50.000 akun media sosial radikal mereka ciptakan sebagai alat penyebar propaganda dan ketakutan-ketakutan kepada masyarakat dunia dengan mengunggah kekejian-kekejian mereka,” ungkap Niam.

Sebab itu, menurutnya, sinergi NU dan INFID untuk meningkatkan konten-konten damai di dunia maya dengan mengadakan lomba esai dan vVideo Iklan Layanan Masyarakat terkait Islam ramah, damai, dan toleran mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka menanggulangi dan mencegah semakin merebaknya narasi-narasi ekstremisme di media sosial dan di dunia maya secara luas.

Untuk kualitas konten, NU Online dan INFID menggandeng beberapa pakar yang kompeten terkait Islam damai di dunia maya diantaranya, Mohamad Sobari, Alissa Wahid, Abdul Mun’im DZ, Savic Ali, Inayah Wahid, dan Daniel Rudi. Tema esai terkait dengan Islam damai, Bhinneka Tunggal Ika, dan Kewarganegaraan.
Jakarta, 27 September 2016