Survei Persepsi Dan Sikap Generasi Muda Terhadap Intoleransi & Ekstremisme Kekerasan


Pada 2014, sekitar seperempat dari total penduduk Indonesia adalah generasi muda. Generasi muda merupakan kelompok usia dengan penetrasi internet tertinggi dengan total 90,61 persen, khususnya mengakses media sosial. Media sosial memiliki pengaruh besar terhadap persepsi pemuda terhadap suatu isu. Hal ini bisa menjadi bermanfaat, namun juga berisiko bagi penggunanya, jika konten yang ada di dalamnya berisi ideologi-ideologi yang mengarah pada radikalisasi dan ekstremisme.

Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyebutkan sejumlah 814.594 situs internet berkategori negatif, termasuk konten radikalisme yang telah diblokir sejak 2010 sampai 2015. Pada 2016 Kemenkominfo memblokir 773 ribu situs. Berdasarkan data sasaran program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Februari 2017, memperlihatkan lebih dari 52% narapidana teroris yang menghuni lembaga pemasyarakatan ialah generasi muda (usia 17 – 34 tahun).

Serangkaian kasus menunjukkan bahwa generasi muda termasuk kelompok rentan terjangkit radikalisasi dan ekstremisme. Oleh karena itu, penting adanya pemahaman persepsi yang berkembang bagi generasi muda Indonesia terkait radikalisasi dan ekstremisme.

Pada 2016, International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) melaksanakan survei terkait sikap dan persepsi generasi muda terhadap radikalisasi dan ekstremisme. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa agama menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas personal generasi muda. Selain itu, hal paling menarik dari temuan survei adalah penolakan yang kuat generasi muda terhadap tindakan kekerasan bermotif agama, namun pada saat yang sama memiliki kecenderungan kuat untuk menerima intoleransi terhadap kelompok keyakinan minoritas-non mainstream, atau yang secara populer disebut dengan “kelompok sesat”.4

Survei kali ini merupakan kelanjutan dari survei di atas, dengan responden survei kelompok umur dan lokasi yang sama. Survei bertujuan melihat sikap dan pandangan generasi muda di enam kota (Bandung, Makasar, Solo, Surabaya, Yogyakarta) terhadap intoleransi dan ekstremisme berbasis agama dan membandingkannya dengan isu yang sama tahun 2016. Survei ini bisa dikatakan bertujuan mengukur tren atau pergeseran sikap dan pandangan pemuda terhadap intoleransi dan ekstremisme berbasis agama antara 2016-2020.