Tempat Kerja Masih Belum Aman dan Nyaman bagi Perempuan



Masih basah dalam ingatan kita mengenai kasus pelecehan seksual yang terjadi kepada Baiq Nuril, seorang guru SMA di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 2018 silam. Baiq Nuril beberapa kali mendapatkan pelecehan seksual secara verbal dari petinggi di sekolah tempatnya mengajar. Pelaku kerap menelpon Baiq Nuril dengan alasan membahas pekerjaan. Tapi nyatanya, sebagian besar obrolan mengarah ke urusan hubungan seksual. Nuril jengah dengan sikap atasannya tersebut. Rekan-rekan kerjanya banyak yang menganggap mereka punya hubungan khusus. Nuril coba menampik tuduhan tersebut, tapi tidak dipercaya.

Suatu waktu, Nuril merekam pembicaraan teleponnya dengan pelaku. Ia bicara kepada rekan sesama guru soal adanya rekaman tersebut. Dalam waktu singkat, rekaman tersebut sudah digandakan dan tersebar luas. Akibatnya, Baiq Nuril mendekam di penjara karena dianggap melanggar undang-undang ITE, padahal yang menyebarluaskan rekaman tersebut adalah rekan kerjanya.

Kasus yang serupa juga menimpa Amel, staf ahli BPJS Ketenagakerjaan. Dia adalah korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh atasannya sendiri. Sudah tidak terhitung berapa kali percobaan pemerkosaan yang dilakukan oleh bosnya itu sejak dia mulai bekerja pada 2016. Amel memendam sendiri kebejatan atasannya tersebut selama dua tahun. Puncaknya pada Desember 2018 ketika dia mencoba bunuh diri karena tidak tahan dengan perlakuan atasan kepadanya. Tindakan pelecehan yang diterima Amel berbagai bentuk. Mulai dari chat mesum, tangannya dipegang, dipaksa ciuman, hingga yang paling keji upaya pemerkosaan. Kasus yang menimpa Baiq Nuril dan Amel merupakan puncak gunung es dari berbagai macam pelecehan seksual, kekerasan dan perlakuan diskriminatif yang dialami perempuan di dunia kerja. Menurut survei yang dilakukan Stop Street Harassment pada 2018 menunjukkan bahwa terdapat 38 persen perempuan yang mengalami pelecehan seksual di tempat kerja dan 81 persen mengaku pernah mengalami beberapa modus pelecehan seksual seperti serangan verbal dan fisik. Survei yang dilakukan AOL Jobs menunjukkan bahwa 1 dari 6 perempuan mengalami pelecehan seksual di tempat kerjanya. 51 persen pelaku pelecehan adalah rekan kerja, sedangkan 43 persen dilakukan oleh atasan atau manajer.

Meskipun kasus pelecehan marak terjadi di tempat kerja, sedikit dari korban yang berani buka suara atau melaporkan kejadian tersebut. Menurut data AOL Jobs, hanya 35 persen korban pelecehan seksual yang berani melapor. Penyebabnya karena korban takut kehilangan pekerjaan, takut tidak digaji, takut dikucilkan dan/atau dicap sebagai perempuan penggoda serta stigma negatif lainnya.

Diskriminasi Perempuan di Tempat Kerja

Dampak dari stereotip gender bahwa laki-laki lebih unggul dibanding perempuan telah masuk ke segala lini kehidupan, tak terkecuali tempat kerja. Bentuk diskriminasi yang muncul pun beragam, mulai dari jumlah gaji perempuan lebih rendah dari laki-laki, perempuan dianggap tidak berhak mendapatkan promosi jabatan, pelecehan seksual, dan sebagainya. Survei Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada Juli 2020 menemukan fakta bahwa pekerja perempuan di Indonesia mendapatkan gaji 23 persen lebih rendah dari laki-laki. Selain itu, jumlah pekerja perempuan yang bekerja sebagai profesional tidak lebih dari 50 persen dan baru 30 persen saja dari mereka yang menempati posisi strategis.

Data tersebut selaras dengan data milik Kementerian Ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa tingkat kepemimpinan perempuan Indonesia di sektor kerja masih sangat rendah. Dari segi angka Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berjumlah 4,1 juta pekerja, hanya 96 perempuan yang punya kedudukan tinggi madya, selebihnya adalah laki-laki yang berjumlah 483 orang. Padahal 52 persen dari total jumlah ASN adalah perempuan. Rata-rata upah yang didapat pekerja perempuan sarjana sebanyak 3,7 juta rupiah per bulan, sedangkan pekerja laki-laki bisa mencapai 5,4 juta rupiah. Di level pekerja lulusan SMA juga sama. Perempuan rata-rata diupah 2,1 juta, sementara laki-laki bisa mencapai 3 juta rupiah tiap bulannya.

Selain itu, jika dilihat dari segi pendidikan, jumlah perempuan lebih unggul dari laki-laki. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 menunjukkan jumlah perempuan lulusan perguruan tinggi mencapai 5.4 juta orang, sedangkan laki-laki sebanyak 5.3 juta orang. Fakta tersebut menunjukkan bahwa meskipun secara jumlah pekerja perempuan lebih banyak dan tingkat pendidikannya lebih unggul, tidak menjamin diskriminasi perempuan di dunia kerja menjadi luntur, baik secara posisi, beban kerja, maupun upah. Tidak hanya di dunia kerja, di ranah politik ketidaksetaraan gender juga kerap terjadi. Di level pemerintahan daerah, kepala dan wakil kepala daerah perempuan masih minim keberadaannya. Jabatan tersebut masih didominasi oleh laki-laki.

Menurut data Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), dari total 259 daerah di Indonesia, baru 45 daerah yang dipimpin oleh perempuan. Sedangkan hanya Kabupaten Klaten yang kepala dan wakil kepala daerahnya dijabat oleh perempuan.

Di dalam proses pemilu, partai politik masih sangat maskulin. Stigma bahwa perempuan tidak memiliki daya tawar yang kuat dalam pemilu masih kuat. Dalam pemilu, partai politik lebih membutuhkan sosok yang punya basis massa dan modal politik yang kuat untuk dicalonkan. Perempuan dianggap tidak memiliki kriteria tersebut. Perempuan dianggap tidak memiliki dana finansial yang memadai untuk berlaga, belum lagi dogma keagamaan yang membatasi perempuan menjadi pemimpin.

Diskriminasi yang menimpa perempuan menunjukkan ketidakseriusan pemerintah terhadap komitmen pemberian upah yang setara bagi pekerja. Padahal, sejak tahun 1957 pemerintah kita sudah meratifikasi Konvensi Buruh Dunia (ILO) Nomor 100 tentang Pengupahan yang Sama bagi Pekerja Laki-laki dan Wanita untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya. Stereotip gender tidak hanya terjadi pada jenis mainan, musik, film, atau cita-cita. Namun, stereotip gender juga terjadi pada pilihan pekerjaan. Pekerjaan bidang sains dan teknologi misalnya, bidang ini disebut lebih tepat dilakukan oleh laki-laki karena dianggap lebih kompeten, logis dan punya daya resiliensi yang lebih kuat dibanding perempuan.

Kim Elsesser dalam bukunya berjudul Sex and the Office: Women, Men and the Sex Partition that’s Dividing the Workplace menyebutkan bahwa ada pengaruh budaya dari cara para orangtua membesarkan anak-anak mereka. Para orang tua, guru dan faktor lingkungan juga mendorong anak-anak untuk menggeluti suatu bidang dan menjauhi bidang yang lain. Budaya patriarki, baik secara kultural atau sosial masih jamak ditemui di Indonesia. Kondisi ini membuat perempuan dituntut lebih banyak mengurusi pekerjaan domestik. Akibatnya, perempuan kehilangan kesempatan bekerja dan menapaki jenjang karir. Mewujudkan kesetaraan gender bagi perempuan di tempat kerja seharusnya menjadi agenda wajib, baik pemerintah maupun pihak swasta. Salah satu indikator untuk mengukur kesetaraan gender di dunia kerja bisa dilakukan dengan melihat jumlah perempuan yang menempati posisi strategis. Peran krusial perempuan di tempat kerja bisa mendorong terwujudnya kebijakan dan inisiatif yang sensitif terhadap gender.

Referensi:

  1. Apriliani Widiyanti, Mei 2021. Eksistensi Perempuan Dengan Beban Ganda (Women Of Double Burden) Dalam Dunia Kerja Toxic Feminity Or Empowerment?. https://www.pertamina-ptc.com/eksistensi-perempuan-dengan-beban-ganda-women-of-double-burden-dalam-dunia-kerja-toxic-feminity-or-empowerment/
  2. Fathia Rachma Aurelia Zahra Natadisastra, Maret 2021. Memahami Beban Ganda dan Stres Pada Perempuan Bekerja. http://yayasanpulih.org/2021/03/memahami-beban-ganda-dan-stres-pada-perempuan-bekerja/
  3. Patresia Kirnandita, Maret 2017. Ketika Perempuan Dinomorduakan di Dunia Kerja. https://tirto.id/ketika-perempuan-dinomorduakan-di-dunia-kerja-ckPK
  4. International Labour Organization (ILO), 2016. Women at Work. http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---dgreports/---dcomm/---publ/documents/publication/wcms_457317.pdf
  5. Fadiyah Alaidrus, 2019. Kekerasan Seksual di Dewas BPJS-TK: Keberanian Amel adalah Lilin. https://tirto.id/kekerasan-seksual-di-dewas-bpjs-tk-keberanian-amel-adalah-lilin-dhxX
  6. Patresia Kirnandita, 2020. Kesenjangan Gender di Dunia Profesional, Mulai dari Upah sampai Penugasan. https://womenlead.magdalene.co/2020/10/09/kesenjangan-gender-di-dunia-kerja-mulai-dari-upah-sampai-penugasan/
  7. Kim Elsesser. Sex and the Office: Women, Men and the Sex Partition that’s Dividing the Workplace.