Pelatihan Menulis Kreatif dengan Pendekatan Toleransi dan Perdamaian untuk Pelajar SMA Sederajat 

Pelatihan Menulis Kreatif dengan Pendekatan Toleransi dan Perdamaian untuk Pelajar SMA Sederajat 

Oleh : Gesia Nurlita, Program Assistant for Preventing Violent Extremism INFID

Generasi muda turut menjadi target penyebaran ideologi serta aksi-aksi ekstremisme berbasis kekerasan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti persoalan tersebut dengan mendesak negara-negara anggota PBB untuk memberikan perhatian serius dalam mencegah generasi muda terpapar ekstrimisme. Merespon kondisi tersebut, INFID bersama Jaringan Gusdurian melakukan survei pada 2020 tentang Persepsi dan Sikap Generasi Muda terhadap Intoleransi dan Ekstremisme Kekerasan. Survei menunjukan bahwa 37,5% generasi muda setuju dengan pemeluk agama selain Islam adalah kafir. Senada dengan itu, survei SETARA Institute pada 2023 menunjukkan sebanyak 51,6% responden pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) sepakat untuk memilih ketua OSIS yang seagama meskipun berbeda ras dan etnis. 

Survei dan penelitian tersebut secara jelas menunjukkan tren intoleransi di institusi pendidikan yang perlu menjadi perhatian serius. INFID sebagai organisasi masyarakat sipil mengambil langkah konkrit intervensi dalam implementasi penghapusan tiga dosa besar di institusi pendidikan. Melalui program PREVENT, INFID untuk kali kedua bekerja sama dengan Kalis Mardiasih (aktivis perempuan dan penulis) melaksanakan Pelatihan Kelas Menulis Kreatif dengan Pendekatan Toleransi dan Perdamaian untuk siswa-siswi di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat. Penyelenggaraan rangkaian kelas daring ini merupakan kali kedua yang diselenggarakan oleh INFID dan Kalis Mardi Asih. Sebelumnya tahun 2022, melalui kelas menulis telah menjaring 15 peserta (13 perempuan dan 2 laki-laki) yang merupakan remaja perempuan dan laki-laki (15-18 tahun) dari berbagai daerah di Indonesia seperti Bandung, Bantul, Banyumas, Bogor, Bondowoso, Jember, Maros, Pasuruan, Pati, Pekanbaru, dan Semarang. Menurut Kepala Pusat Penguatan Karakter (PUSPEKA) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rusprita Putri Utami, media menulis kreatif dengan bercerita dan bertutur sangat efektif diterapkan dalam era digital, dimana sumber literasi Generasi Z banyak didominasi melalui sosial media. Hal ini relevan dengan kelas menulis ini yang didesain sebagai ruang untuk pelajar SMA sederajat (termasuk Gen Z) untuk dapat belajar dan meningkatkan keterampilan menulis dengan pendekatan perdamaian dan toleransi, serta mampu mengekspresikannya melalui media daring.

Sesi 1 Pelatihan Kelas Menulis: Teori Menulis dengan Pendekatan Toleransi dan Perdamaian 

Pelatihan ini memberikan pemahaman filosofis dan sosiologis mengenai hak-hak dasar manusia, keragaman etnis/suku, gender, ekonomi, abilitas/disabilitas hingga agama. Salah satu pembelajaran menarik dari sesi kelas menulis ini adalah pemahaman mengenai konsep gender dan keragaman gender. Pasalnya hal tersebut masih menjadi tabu dalam pembelajaran/kurikulum di sekolah. Komisioner Komnas Perempuan, Alimatul Qibtiyah pada media Kompas menyampaikan bahwa persoalan tiga dosa besar di institusi pendidikan tidak bisa lepas dari pemahaman terhadap gender. Tak jarang di institusi pendidikan, mekanisme pelaporan dan penanganan terhadap kasus intoleransi, kekerasan seksual dan perundungan masih menjadi persoalan saling lempar antara guru, wali kelas, bimbingan konseling, bidang kesiswaan hingga kepala sekolah. Materi ini dianggap begitu penting untuk mengisi kekosongan kurikulum/pendidikan di sekolah mengenai hak-hak perempuan, kelompok minoritas agama dan kelompok rentan lainnya. 

Sesi 3 Pelatihan Kelas Menulis: Menggali Ide dan Praktik Menulis

Dalam sesi praktiknya, peserta diajak untuk menggali ide cerita melalui pengalaman personal,  kekhasan budayanya, interaksi sosial masyarakat daerah masing-masing serta korelasinya dengan fenomena intoleransi. Hal ini memicu siswa-siswi untuk merefleksikan dan menganalisis kejadian-kejadian di lingkungannya. Metode pelatihan menulis kreatif dapat membuat pemahaman siswa-siswi terbangun secara organik dan mampu membangun kesadaran kritis.

Pelatihan ini diminati oleh 45 orang siswa se-Indonesia dan disaring berdasarkan proses seleksi menjadi 16 peserta (12 perempuan dan 4 laki-laki) pelatihan dengan pertimbangan latar belakang geografis, suku/ras, agama, gender dan tulisan yang telah dikirimkan oleh peserta. Kelas Pelatihan menulis dilaksanakan secara daring dan memuat 6 sesi, yakni: 1) Teori Menulis dengan Pendekatan Toleransi dan Perdamaian; 2) Anatomi Esai/Penulisan Esai; 3) Menggali Ide dan Praktik Menulis; 4) Bercerita dan Menulis Kreatif; 5) Review Esai dan 6) Mengenal Platform untuk Publikasi Tulisan.

Peserta didampingi oleh fasilitator selama proses membuat karya tulis kreatif dalam kacamata toleransi sebagai hasil akhir pelatihan. Kalis Mardi Asih mengatakan bahwa pelatihan kelas menulis ini sebagai langkah menciptakan munculnya narasi-narasi yang humanis, berkeadilan dan peradaban yang melek literasi. Selain itu, setelah mengikuti kelas ini harapannya peserta dapat secara aktif menyuarakan toleransi dan perdamaian melalui tulisan-tulisan di ruang-ruang yang ada di sekolah, komunitas, ataupun di media daring. Selain itu, tulisan yang dihasilkan oleh para peserta diharapkan dapat menjadi bacaan alternatif untuk remaja di Indonesia, terlebih menjadi media untuk ajakan aksi merawat toleransi dan perdamaian.

Add a Comment

Your email address will not be published.