Belajar Relasi HAM dan Bisnis dari Serial TV Extraordinary Attorney Woo

Belajar Relasi HAM dan Bisnis dari Serial TV Extraordinary Attorney Woo

Oleh M. Faisal Javier

“Kau sudah melihat halaman kedua resumenya? Tertulis bahwa dia mengidap autisme.”

Jung Myung-seok (Kang Ki-young), pengacara senior firma hukum Hanbada, berusaha memastikan apakah bosnya, Han Seon-young (Baek Ji-Won), telah mengetahui bahwa calon pengacara baru firma hukum tersebut, Woo Young-woo (Park Eun-Bin), adalah seorang autis. Ini adalah sepotong adegan dalam episode pertama serial televisi asal Korea Selatan, Extraordinary Attorney Woo, yang pertama kali rilis di Netflix pada 2022.

Seon-Young bersikukuh bahwa ia tidak salah pilih. Young-woo, lulusan Fakultas Hukum Seoul National University, berhasil menamatkan ujian pengacara dengan skor 1.500, tertinggi dibanding para peserta lainnya. Myung-seok protes lantaran ia lebih membutuhkan seorang pengacara baru yang punya keterampilan sosial dan kemampuan berkomunikasi dengan baik, sesuatu yang tidak dimiliki Young-woo.  Dengan tenang, Seon-young pun bertanya balik kepada Myung-seok, “Lantas, apa dahulu kau melakukannya dengan baik?”

Serial drama Korea (drakor) ini mendapat sambutan positif dari para kritikus dan penonton. Di situs Rotten Tomatoes, musim pertama serial ini mendapat ulasan positif dari seluruh kritikus—11 orang, dan skor yang diperoleh pun mencapai 100 persen. Sedangkan skor ulasan audiens mencapai 94 persen. 

Extraordinary Attorney Woo bukanlah produk budaya populer pertama yang memasukkan kisah penyandang autis dalam alurnya. Ada sejumlah film yang turut menyertakan tokoh autis, baik sebagai tokoh utama atau tokoh pendukung, seperti Rain Man (1988), My Name is Khan (2010), dan The Accountant (2010).

Namun, serial drakor ini dapat menjadi rujukan penting bagi Anda untuk memahami penerapan hak asasi manusia (HAM) dalam bisnis. PBB telah menyediakan prinsip-prinsip panduan terkait bisnis dan HAM, yang di dalamnya terdapat pula penjelasan mengenai tanggung jawab perusahaan untuk menghormati HAM dalam level dasar (foundational) dan operasional. Extraordinary Attorney Woo memang tidak secara gamblang menggambarkan bagaimana hal-hal tersebut dipraktikkan dalam bisnis Hanbada. Tetapi, Han Seon-young selaku bos Hanbada menunjukkan sikap paling dasar dalam HAM, yakni antidiskriminasi. Terlepas dari permintaan ayah Young-woo kepadanya untuk merekrut Young-woo, Seon-young memberi kesempatan bagi Young-woo bekerja di firma hukumnya karena ia tahu Young-woo adalah lulusan terbaik ujian pengacara. 

Seiring dengan berlakunya Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas, yang telah diratifikasi 187 negara, termasuk Indonesia, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM (OHCHR) dalam situsnya menyebut bahwa ada perubahan paradigma dalam memandang disabilitas, dari yang semula berbasis pada pendekatan yang berorientasi pada amal (charity) dan berbasis medis, menjadi pendekatan yang berbasis HAM, yang menyerukan inklusivitas dan partisipasi. Hak penyandang disabilitas, termasuk autis, dijamin dalam Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas, yang telah diratifikasi 187 negara, termasuk Indonesia. Pasal 27 perjanjian tersebut menyinggung bahwa negara yang terlibat harus melarang diskriminasi terhadap penyandang disabilitas di tempat kerja, serta melindungi hak-hak mereka sebagai pekerja pada umumnya.

Kesempatan yang diberikan Seon-young juga bukan atas dasar belas kasihan. Ia tak ragu untuk mengiyakan pertanyaan Myung-seok bahwa apakah Hanbada dapat memecat Young-woo jika Young-woo tidak kompeten. Ini menandakan bahwa perekrutan Young-woo memang sepenuhnya didasari pada kemampuannya.

Young-woo pun dapat membuktikan diri bahwa seorang penyandang autis dapat menjadi seorang pengacara andal, terlepas dari disabilitas yang ia miliki. Berkat kemampuan ingatan fotografis serta cara berpikirnya yang kreatif, ia sukses membantu timnya untuk memenangkan kasus-kasus yang dipercayakan pada mereka. Myung-seok yang awalnya skeptis terhadapnya, perlahan menjadi seorang mentor yang selalu memberi kepercayaan kepadanya. Bahkan, Myung-seok juga membelanya saat jaksa penuntut menyinggung spektrum autis Young-woo dalam salah satu kasus yang mereka tangani.

Ada beragam kasus dan latar belakang klien yang ditangani oleh Young-woo sepanjang musim pertama serial ini. Namun, ada satu kasus yang menunjukkan keberpihakan Young-woo terhadap implementasi HAM dalam bisnis. Yakni ketika ia dan timnya menjadi klien dari Desa Sodeok-dong yang terancam digusur oleh pembangunan jalan bebas hambatan. Ia sukses membuktikan bahwa rencana pembangunan tersebut telah dimatangkan bahkan sebelum studi analisis dampak lingkungan dilakukan. Pada akhirnya, kegigihan Young-woo sukses menyelamatkan desa tersebut dari penggusuran meski ia menghadapi beragam tantangan, termasuk salah satunya tawaran untuk bergabung firma hukum pesaing yang ternyata dimiliki ibu kandungnya.