Fatayat NU Jawa Timur Menggelar Pengenalan Islam Damai sesi 3:Memperkuat Peran Pemimpin Agama Perempuan dalam Membumikan Islam Rahmatan Li alamiin
oleh: Ida Rochmawati, Fatayat NU Jawa Timur
Diskusi Islam Damai ini merupakan rangkaian diskusi yang ketiga kali dilaksanakan oleh PW Fatayat NU Jawa Timur bersama dengan INFID dalam Program INKLUSI. Diskusi kali ini dilaksanakan di Gedung Sabhadiyaksa Komplek Pemerintah Kabupaten Lamongan dan dihadiri 45 peserta dari berbagai organisasi Islam perempuan, organisasi perempuan, pengasuh pesantren perempuan, Organisasi Perangkat Daerah Lamongan dan Kelompok penyandang disabilitas seperti Fatayat NU, Muslimat NU, Nasyiatul Aisiyah, LDII, Forum Lingkar Pena, Aliansi Perempuan Lamongan, FKUB, pesantren Al Fatah Siman dsb. Terdapat 14 lembaga yang menjadi bagian dari kegiatan ini. Diskusi Islam Damai ini bertujuan untuk memberikan pandangan tentang Islam rahmatan lil ‘alamiin secara universal. Sebagai pemimpin perempuan, peserta diharapkan dapat menebarkan wawasan dan pengalaman berdiskusi secara intensif bersama peserta yang beragam latar ideologi keislamannya kepada komunitas yang mereka pimpin.
Pemilihan Kabupaten Lamongan sebagai lokasi Diskusi Islam Damai mengingat Lamongan dikenal sebagai wilayah “merah” dengan ditemukannya beragam kasus radikalisme dan terorisme. Seiring dengan fakta ini, Wakil Bupati Lamongan, Drs. KH. Abdul Rouf, MA menyampaikan dalam paparannya bahwa prinsip dasar Islam itu adalah damai. Umat Islam di Kabupaten Lamongan khususnya juga mencintai kedamaian bukan kekerasan.
Hadir dalam diskusi ini dua narasumber, Hj.Luluk Faridah, Pengasuh PPI Darun Najah Malang dan Kyai Choirul Anwar, Pengasuh Ponpes Internasional Al Illiyin Gresik dan dimoderatori oleh Dr. Alimul Muniroh dari IAI Tarbiyatut Tholabah Kranji Lamongan. Radikalisme dan terorisme yang terjadi di Indonesia khususnya, bermula dari adanya sekelompok umat Islam yang merasa dirinya paling benar dan mengajak masuk ke kelompok mereka dengan berbagai cara. Menurut Luluk Faridah, mereka memakai ayat-ayat Alqur’an dan hadist sesuai dengan kebutuhan mereka. Padahal memahami syari’ah dalam AlQur’an dan hadist tidak bisa hanya dari teks, namun dibutuhkan akal untuk berfikir, logika untuk memahami dan belajar dari para ulama yang sudah mumpuni yang disebut fiqih, barulah diimplementasikan ke dalam kehidupan. Fatwa Alqur’an dan hadits harus menjadi rahmat tidak boleh memberatkan, menciptakan permusuhan dan menjadi sarana penolong bagi umat Islam dan seluruh manusia. “Islam selalu membela yang benar, yang adil untuk siapapun dan dari manapun dia” tegasnya.
Sementara, Choirul Anwar menegaskan bahwa Islam adalah agama yang sejuk, indah, memberi keselamatan bagi pemeluknya serta menjadi rahmat bagi seluruh alam. Islam mengajarkan pemeluknya untuk berakhlak yang baik dan menebarkan kasih sayang satu sama lain. “Apabila kita ingin dicintai oleh Allah maka tebarkanlah kasih sayang pada semua manusia di muka bumi. Berbuat baik dan menebarkan kasih sayang ibarat menanam tanaman yang baik, semakin lama akan menuai hasil yang baik pula,” jelasnya.
Dalam konteks Islam rahmatan lil alamiin, Islam mengatur tata hubungan dari aspek teologis, ritual, sosial dan humanitas. Pada aspek teologis, Islam sudah menata ritual sedemikain rupa dalam Al Qur’an dan As sunnah dan memberi rumusan tegas yang harus diyakini oleh setiap pemeluknya. Namun, ini tidak bisa dijadikan alasan untuk memaksa non muslim memeluk Islam. Sebaliknya dalam konteks sosial, Islam sesungguhnya hanya berbicara tentang ketentuan dasar atau pilar-pilar pokoknya saja. Sementara penerjemahan operasional secara detail dan komprehensif tergantung pada kesepakatan dan pemahaman masing-masing komunitas yang memiliki keunikan berdasar keberagaman, nilai dan sejarah yang mereka miliki.
Entitas Islam sebagai Islam rahmatan lil alamiin mengakui eksistensi pluralitas. Islam memandang pluralitas sebagai sunnatullah yang berfungsi sebagai penguji dari Allah untuk manusia, fakta sosial, ataupun rekayasa sosial kemajuan umat manusia. Disinilah pentingnya peran perempuan untuk meyuarakan Islam damai dalam kerangka Islam rahmatan lil alamiin.
Abdul Waidl, Program Manager HAM dan Demokrasi INFID, memaparkan bahwa perempuan saat ini aktif dalam berbagai lembaga dan organisasi, sehingga dapat menyuarakan Islam yang damai. Sudah banyak bukti bahwa perempuan dimanfaatkan oleh gerakan radikalisme dan kekerasan yang mengarah pada terorisme.
Menurut Dewi Winarti selaku ketua PW Fatayat NU Jawa Timur, kegiatan ini justru ingin mengajak para pemimpin perempuan untuk menyuarakan nilai-nilai agama yang penuh rahmat di tengah masyarakat, bukan hanya jargon namun sampai kepada implementasinya. Bagaimana sesama pemimpin perempuan bisa saling terbuka mendengarkan pengalaman orang lain yang berbeda ideologi keagamaan yang sebelumnya belum pernah dilakukan, sehingga akan muncul keterbukaan dan kerja sama dalam menciptakan perdamaian.