Kontribusi Laki-laki terhadap Kontrasepsi Masih Rendah
Oleh: Isthiqonita
Ilustrasi: Canva
Nonik (34) bersama suaminya sepakat untuk melakukan vasektomi. Vasektomi merupakan salah salah satu cara untuk mencegah kehamilan dengan prosedur pembedahan yang dilakukan untuk membuat laki-laki tidak dapat memproduksi sel sperma. Selama prosedur, vas deferens, yaitu saluran yang membawa sperma dari testis ke penis, dipotong atau disumbat. Pada dasarnya, di Indonesia vasektomi diperuntukkan bagi laki-laki yang telah berkeluarga namun tidak lagi menginginkan memiliki keturunan karena berbagai faktor. Jika laki-laki berubah pikiran, maka bisa melakukan rekanalisasi, operasi untuk menyambungkan kembali saluran namun termasuk operasi yang sulit dan mahal. Keputusan tersebut diambil setelah Nonik mengalami empat kali kehamilan berisiko, tiga di antaranya bahkan keguguran. Nonik juga tidak cocok dengan alat kontrasepsi untuk perempuan yang membuat hormonnya terganggu hingga tidak mengalami menstruasi selama satu tahun, selain itu ia alergi terhadap bahan latex yang digunakan sebagai bahan kondom. Nonik kemudian bertanya kepada suaminya apakah bersedia untuk melakukan vasektomi.
Suami Nonik mau untuk mencari informasi tentang vasektomi, terutama perihal risiko dan efek yang bisa ditimbulkan. Mereka kemudian mendatangi fasilitas kesehatan (faskes) pertama, untuk berkonsultasi perihal vasektomi. Respons pertama yang mereka dapatkan adalah bidan mempertanyakan sekaligus menyayangkan keputusan vasektomi, apalagi mereka baru memiliki satu anak dan menyarankan sebaiknya Nonik saja yang pakai alat kontrasepsi alih-alih melakukan vasektomi. Karena tidak mendapat jawaban yang diharapkan di Faskes pertama, Nonik kemudian menghubungi rekannya yang bekerja di (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) BKKBN, Nonik diarahkan untuk mendatangi kader Keluarga Berencana (KB) yang tersedia di desa atau kelurahan.
Setelah menjalani berbagai prosedur administrasi, mereka kemudian berkonsultasi dengan dokter yang akan menjalankan prosedur vasektomi. Nonik dan suaminya diminta untuk meminta izin kepada keluarga besar kedua belah pihak. Saat itu Nonik dibuat heran dengan ‘permintaan’ dokter tersebut, karena menurutnya vasektomi adalah keputusan suami istri yang sudah tidak perlu lagi melibatkan orang tua. Dokter tersebut kemudian menjelaskan dan menceritakan pengalamannya. Ketika selesai melaksanakan prosedur vasektomi, ada keluarga dari pihak laki-laki yang tidak terima sampai memarahi istri bahkan memarahi dokter yang melakukan vasektomi. Namun Nonik dan suaminya menegaskan bahwa mereka telah sepakat dengan alasan situasi Nonik yang mengalami kehamilan berisiko berkali-kali dan tidak cocok dengan alat kontrasepsi perempuan. Nonik dan suaminya mengabari keluarga mereka setelah menjalani prosedur vasektomi. Keluarga mereka banyak bertanya terkait prosedur atau efek samping yang dirasakan, tanpa menghakimi, karena memahami pengalaman Nonik yang pernah dilalui dengan kehamilan berisiko.
Kontrasepsi Laki-laki, Masih Terbatas dan Tabu Dibicarakan
Melalui media sosialnya di X/noniksipit, Nonik membagikan pengalaman vasektomi yang dijalani suaminya. Ia mendapatkan respons yang sangat beragam dari warganet, ada yang penasaran kemudian bertanya, beberapa laki-laki yang telah melakukan vasektomi turut berbagi pengalamannya, namun yang merespons dengan hujatan juga banyak. Nonik ‘dituduh’ mengebiri suaminya, tidak menjalani kodratnya sebagai perempuan yang seharusnya menggunakan alat kontrasepsi, hingga berbagai tafsiran agama yang mengharamkan vasektomi. Bahkan ada yang mengatakan, membolehkan suami vasektomi sama dengan menyuruh suami untuk selingkuh. Nonik tidak ambil pusing dengan ragam hujatan tersebut, ia memahami pemahaman dan keterlibatan kontrasepsi laki-laki -khususnya vasektomi- di masyarakat pada umumnya memang masih sangat terbatas.
Pernyataan Nonik senada dengan data dari BKKBN bahwa partisipasi laki-laki dalam program keluarga berencana (KB) masih sangat rendah, pada tahun 2023 hanya menyentuh angka 3% secara nasional, apalagi vasektomi, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut persentase pasangan usia subur 15-49 tahun yang memilih vasektomi pada 2023 hanya 0,21%. Tindakan vasektomi itu hanya terfokus di Jawa serta sebagian provinsi di Sumatera dan Kalimantan. Prevalensi vasektomi tertinggi ada di DI Yogyakarta sebesar 0,48% dan DKI Jakarta 0,42%, sedangkan prevalensi vasektomi di 23 provinsi dari 34 provinsi mendekati nol atau datanya tidak tersedia.
BKKBN sebetulnya melakukan berbagai upaya dalam menggalakkan KB untuk laki-laki. BKKBN juga memiliki program motivator KB pria, yang bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polisi Republik Indonesia (Polri), media, para pemangku kepentingan, dan seluruh masyarakat yang telah divasektomi. Tugasnya adalah menceritakan pengalamannya yang telah divasektomi kepada rekan-rekan sebayanya untuk memotivasi agar tertarik melakukan vasektomi. BKKBN juga menggratiskan program vasektomi yang biasanya harus berbiaya Rp 2-3 tiga juta, BKKBN bahkan memberikan Rp 300 ribu untuk uang istirahat.
Namun upaya BKKBN tersebut tidak menaikkan partisipasi laki-laki untuk melakukan KB secara signifikan. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, yakni KB masih disematkan sebagai tanggung jawab maupun kewajiban perempuan, hingga berbagai mitos yang menyertai kontrasepsi laki-laki. Kondom dianggap mengurangi kenikmatan hubungan seksual karena ada karet yang membatasi bersentuhannya penis dan vagina, sedangkan vasektomi banyak ditolak karena dianggap mengebiri laki-laki sehingga menyebabkan laki-laki tidak mampu ereksi dan ejakulasi. Keengganan laki-laki menjadi pihak yang bertanggung jawab atas pencegahan kehamilan menyebabkan tugas itu jatuh ke perempuan. Padahal perempuan banyak mengalami pengalaman reproduksi yang kompleks seperti menstruasi, hamil, melahirkan, hingga nifas.
Dalam masyarakat, perempuan menerima tuntutan lebih besar untuk hamil dan melahirkan. Mereka juga harus menanggung beban morbiditas dan mortalitas akibat kehamilan dan persalinan. Kondisi itu akhirnya membuat program, konseling, penyebaran informasi, hingga layanan kontrasepsi lebih banyak menyasar perempuan dibandingkan laki-laki. Tingginya angka kematian ibu dan bayi di negara-negara berkembang akhirnya juga membuat prioritas kontrasepsi lebih banyak ditujukan kepada perempuan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan mereka. Kondisi ini membuat program layanan kesehatan dasar kurang terfokus pada laki-laki, termasuk layanan kontrasepsinya.
Alat kontrasepsi yang disediakan oleh BKKBN tersedia untuk laki-laki dan perempuan. Hanya saja, kontrasepsi untuk laki-laki hanya ada dua jenis, yakni kondom dan vasektomi. Sedangkan perempuan terdapat 6 jenis kontrasepsi. Namun, jika dibandingkan dengan kontrasepsi laki-laki, kontrasepsi untuk perempuan sesungguhnya lebih berisiko karena alat reproduksi perempuan berada di dalam tubuh, di antaranya: (1) kondom perempuan kurang efektif dibanding kondom laki-laki; (2) diafragma tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual, dapat menyebabkan infeksi saluran kencing, dan harus dilepas saat menstruasi; (3) pil KB tidak melindungi pengguna dari penyakit menular seksual, penggunaan pil KB pada bulan pertama mungkin akan menimbulkan efek samping (mual, pendarahan atau flek di masa haid, kenaikan berat badan, hingga sakit kepala), dan dapat mendatangkan risiko meningkatnya tekanan darah, pembekuan darah, dan payudara mengeras; (4) suntik KB berisiko kenaikan berat badan, suntik KB bulanan perlu memerlukan waktu kunjungan rutin per bulan ke dokter atau bidan, tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual, dan dapat menyebabkan efek samping seperti bercak darah; (5) implan (susuk KB) harganya relatif mahal, dapat menyebabkan efek samping seperti haid tidak teratur, dapat menyebabkan memar dan bengkak di awal pemasangan, tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual; (6) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim atau IUD menyebabkan perubahan siklus haid (umumnya 3 bulan pertama), haid lebih lama dan banyak, dan tidak mencegah penyakit menular seksual; dan (7) tubektomi (sterilisasi) memiliki efek yang sama dengan vasektomi, namun harus melalui pembedahan yang lebih kompleks ketimbang vasektomi.
Tubuh Perempuan yang Terus Dikontrol tanpa Pilihan
Ketimpangan partisipasi kontrasepsi laki-laki dan perempuan juga diakibatkan penyediaan alat kontrasepsi oleh negara yang jenisnya lebih banyak ditujukan untuk perempuan. Kampanye-kampanye KB sangat jarang menekankan dan memprioritaskan pemakaian kondom untuk laki-laki. Justru, kondom seringkali dikaitkan dengan pelacuran. Di sisi lain vasektomi masih menjadi perdebatan perihal kebolehannya secara agama hingga mitos yang banyak dipercaya. Perempuan akhirnya tidak memiliki pilihan. Kontrol tubuh perempuan dilakukan oleh negara melalui intervensi politik program KB, ditambah kontrol oleh laki-laki, seperti suami.
Padahal, setiap perempuan berhak atas hak reproduksi. Berbagai aturan hukum menjamin hal ini, di antaranya Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (HAM), Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW), Konvensi Hak Anak, UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, serta UU Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera.
Kontrol tubuh perempuan untuk bertanggung jawab atas program KB terjadi sejak era Orde Baru. Kala itu program KB wajib diikuti oleh seluruh perempuan usia subur tanpa terkecuali. Untuk mewujudkan hal tersebut seluruh petugas KB bergerak untuk menarik perempuan tanpa ada proses, tanpa bisa menentukan alat kontrasepsi apa yang ingin digunakannya, perempuan direbut hak reproduksinya oleh negara. Negara dengan budaya patriarkinya menggunakan tubuh perempuan sebagai sarana untuk mencapai tujuan menurunkan angka kelahiran, seakan tempat perempuan hanya berada di sektor privat atau domestik saja tanpa diberi pilihan untuk memutuskan.
Melibatkan Berbagai Pihak untuk Edukasi Terkait Kontrasepsi Laki-laki
Nonik menjadi salah satu yang aktif mengkampanyekan perihal kontrasepsi laki-laki -khususnya vasektomi- di media sosialnya. Ia kemudian menerima pesan pribadi dari beberapa warganet yang tertarik untuk melakukan vasektomi. Ada juga yang mengeluhkan bahwa melakukan vasektomi di daerahnya diharuskan berbayar oleh kader KB setengah harga, kurang lebih sekitar Rp. 500 ribu. Hal ini berarti ada kader KB BKKBN yang ‘nakal’ yang memanfaatkan ketidaktahuan publik perihal program vasektomi yang justru menghambat keterlibatan laki-laki untuk berkontrasepsi. Nonik berharap pemerintah, utamanya BKKBN, mengevaluasi setiap kader KB di daerah dan membuat SOP untuk publik apabila mengalami hal serupa dapat melaporkannya ke mana.
Selain itu, perlu kesadaran untuk melawan narasi perihal mitos kontrasepsi bagi laki-laki. Kondom tidak mengubah ‘rasa’ ketika melakukan hubungan seksual. Mitos tentang vasektomi yang banyak berkembang, umumnya terkait dengan kesehatan seksual laki laki sesudah vasektomi dilakukan. Kesalahpahaman mendasar terkait vasektomi adalah menyamakan operasi vasektomi dengan kebiri atau dalam istilah medis disebut sebagai kastrasi. Kenyataannya, vasektomi dan kebiri adalah dua hal berbeda. Dari kesalahpahaman dasar itu kemudian memunculkan mitos bahwa vasektomi bisa menurunkan libido atau gairah seksual laki-laki. Mitos lainnya menyebut vasektomi membuat suami tak bisa ejakulasi. Kenyataannya, tetap bisa terjadi sebab vasektomi tidak memengaruhi organ vesikula seminalis yang memproduksi dan menyimpan cairan mani.
Tenaga kesehatan dan dunia medis yang memiliki perspektif gender juga sangat diperlukan untuk melibatkan laki-laki dalam berkontrasepsi. Dokter kandungan, bidan, dan tenaga medis lainnya tidak hanya menekankan perempuan akan menggunakan alat kontrasepsi apa setelah melahirkan, tapi juga mengedukasi laki-laki untuk berbagi peran dalam perencanaan keluarga.
Argumen keagamaan menjadi sangat penting ketika berbicara kontrasepsi bagi laki-laki. Karena hal tersebut berkaitan erat dengan rendahnya keterlibatan laki-laki dalam melakukan vasektomi. Bagi umat muslim, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengeluarkan fatwa haram tentang vasektomi hingga empat kali, yaitu tahun 1979, 1983, 2009. Sedangkan Dalam Fatwa MUI 2012 disebutkan vasektomi diperbolehkan dengan berbagai syarat, yakni dilakukan untuk tujuan yang tidak menyalahi aturan agama, tidak menimbulkan kemandulan permanen, ada jaminan bahwa saluran sperma yang dipotong sebelumnya bisa disambung lagi dan fungsi reproduksi kembali seperti semula (rekanalisasi), serta tidak menimbulkan bahaya bagi yang melakukan. KH Imam Nahe’i, ulama laki laki dari pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, Jawa Timur yang juga merupakan Komisioner Komnas Perempuan periode 2014-2024 turut berperan dalam dalam perumusan fatwa tersebut. Ia membenarkan bahwa vasektomi diperbolehkan karena tidak merusak dan memengaruhi fungsi reproduksi dan dapat dikembalikan melalui rekanalisasi, sehingga tidak dikategorikan sebagai KB permanen.
Namun perubahan hukum vasektomi yang menjadi diperbolehkan dengan syarat tertentu nyatanya belum meningkatkan jumlah akseptor pria yang mengikuti vasektomi. Situasi itu bisa jadi disebabkan fatwa terbaru belum disosialisasikan secara luas dan masih banyak ulama dan organisasi Islam lain yang tetap mengharamkan vasektomi dengan sejumlah alasan (Muhyiddin, 2014). Artinya sangat diperlukan peran tokoh keagamaan yang memiliki perspektif terhadap pengalaman reproduksi perempuan untuk menyebarkan argumen perihal pentingnya keterlibatan laki-laki dalam melakukan kontrasepsi.
Referensi
Adawiyah, Robiatul. “Sadarkah Kita Bahwa Implementasi KB Timpang Gender Dan Diskriminatif Terhadap Perempuan?” The Conversation, 29 June 2022, https://theconversation.com/sadarkah-kita-bahwa-implementasi-kb-timpang-gender-dan-diskriminatif-terhadap-perempuan-185751
Andriansyah, Anugrah. “Hanya 5 Persen Laki-Laki Ikut KB, Mengapa?” VOA Indonesia, VOA Indonesia | Berita AS, Dunia, Indonesia, Diaspora Indonesia di AS, 10 May 2020, https://www.voaindonesia.com/a/hanya-5-persen-laki-laki-ikut-kb-mengapa-/5413899.html
Gonsaga, Aloysius. “KB Laki-Laki Sepi Peminat, Hanya Capai 3 Persen.” KOMPAS.Com, Kompas.com, 29 June 2024, https://regional.kompas.com/read/2024/06/29/070600378/kb-laki-laki-sepi-peminat-hanya-capai-3-persen
Prameswari, Lintang Budiyanti. “Kepala BKKBN Ajak Pria Vasektomi, Gratis Bahkan Ada Uang Istirahat – ANTARA News.” Antara News, ANTARA, 14 May 2024, https://www.antaranews.com/berita/4103823/kepala-bkkbn-ajak-pria-vasektomi-gratis-bahkan-ada-uang-istirahat
Siregar, Uly. “Kontrasepsi Tak Hanya Urusan Perempuan – DW – 27.11.2018.” Dw.Com, Deutsche Welle, 27 Nov. 2018, https://www.dw.com/id/kontrasepsi-bukan-hanya-urusan-perempuan/a-45430825
Syarif, Muammar. “Mengapa Kontribusi Laki-Laki Terhadap Kesuksesan Program KB Melalui Vasektomi Sangat Penting?” The Conversation, 29 July 2022, https://theconversation.com/mengapa-kontribusi-laki-laki-terhadap-kesuksesan-program-kb-melalui-vasektomi-sangat-penting-187912
ZAID WAHYUDI, MUCHAMAD. “Mitos-Mitos Tentang Vasektomi – Kompas.Id.” Kompas.Id, Harian Kompas, 28 Apr. 2024, https://www.kompas.id/baca/humaniora/2024/04/27/mitos-mitos-tentang-vasektomi
—. “Vasektomi, Kontrasepsi Pria Yang Tak Berkembang Di Seluruh Dunia – Kompas.Id.” Kompas.Id, Harian Kompas, 1 May 2024, https://www.kompas.id/baca/humaniora/2024/05/01/vasektomi-kontrasepsi-pria-yang-tak-berkembang-di-seluruh-dunia