Membangun Kerjasama Internasional Untuk Menguatkan Komitmen dan Praktik Islam Rahmatan Lil Al-amin

Membangun Kerjasama Internasional Untuk Menguatkan Komitmen dan Praktik Islam Rahmatan Lil Al-amin

Salah satu perhatian INFID (International NGO Forum on Indonesian Development) adalah menyediakan basis bukti dan advokasi kebijakan untuk mengurangi risiko ekstremisme kekerasan (violent extremism). Di antara yang dilakukan meliputi: (1) memetakan tren ekstremisme kekerasan di lembaga pendidikan dan BUMN, (2) menyediakan bukti persepsi dan tren pemuda terhadap ekstremisme-kekerasan, (3) bekerja sama dengan organisasi Islam moderat besar Indonesia (NU dan Muhammadiyah) dalam menghadapi ekstremisme kekerasan, dan (4) memperkuat peran organisasi perempuan berbasis agama dalam mencegah dan menangani ekstremisme kekerasan.

INFID memiliki komitmen untuk turut serta bersama-sama pemerintah dan masyarakat sipil, seperti ormas keagamaan Muhammadiyah dan NU, mendorong pelaksanaan Islam yang moderat (wasatiyah). Menurut INFID, merujuk berbagai pengalaman penelitian, advokasi dan kerja sama, dua ormas keagamaan moderat tersebut senantiasa menjadi fondasi kuat dalam menjaga perdamaian, hidup rukun berdampingan untuk merawat dan menghargai keragaman di tengah keberagaman suku, budaya, ras bangsa, dan negara Indonesia.

Kita ingin menguatkan wajah rahmat Islam yang tampil ke depan, menjadi komitmen dan diterapkan oleh sebanyak-banyaknya umat muslim, bahkan negara-negara muslim dunia. Para ulama dan umara (pemerintah) akan terus mendorong konsep dan praktik Islam yang toleran (tasāmuh), penuh kedamaian, menjunjung prinsip-prinsip hak asasi manusia, bersentuhan dengan kebudayaan dalam dakwah, dan kompatibel dengan demokrasi.

Oleh karena itu, INFID juga turut serta mendorong Islām raḥmatan li al-
ʿĀlamīn lebih luas ke berbagai negara. Diharapkan hal tersebut turut memberikan kontribusi bagi gerakan serupa yang sedang dan telah dilaksanakan institusi keagamaan dan non-keagamaan lainnya. Upaya yang didorong adalah mengajak NU dan Muhammadiyah untuk berbagai pengalaman melaksanakan Islam damai, toleran, dan kompatibel bagi demokrasi dengan tiga negara Islam lain: Malaysia (Asia Tenggara), Pakistan (Asia Selatan), dan Tunisia (Afrika Utara, Arab).

Untuk melaksanakan gagasan tersebut, hal pertama dilakukan adalah menggelar Seminar Internasional. Seminar ini merupakan forum silahturahmi keempat negara (Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Tunisia), sekaligus forum berbagi pengalaman terkait upaya keempat negara tersebut menguatkan pemahaman dan praktik Islam penuh rahmat bagi semesta. Seminar juga menjadi sarana konsolidasi, agar pelaksanaan Islām rahmatan li al-‘alamin dapat menguat dan meluas ke berbagai negara Muslim yang lain. Wajah damai dan toleran Islam ke depannya akan mengemuka dan menjadi teladan bagi negara di dunia.

Alhamdulillah, gayung bersambut. NU dan Muhammadiyah menyambut baik. Dalam audiensi dengan Sekretaris Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah dan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), gagasan INFID untuk memperluas pengalaman beragama secara toleran dan damai dari Indonesia (terutama NU dan Muhammadiyah) diterima dengan tangan terbuka. Acara internasional ini juga mendapat dukungan dari Sekretariat Wakil Presiden, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Agama, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Pakistan, Tunisia, dan Malaysia.

INFID menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh pimpinan organisasi NU dan Muhammadiyah, terutama kepaa KH. Said Aqil Siradj (Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, 2010-2021), KH. Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah), KH. Helmy Faishal Zaini (Sekjen PBNU, 2015-2021), KH. Saifullah Yusuf (Sekjen PBNU 2022-2027), dan KH. Abdul Mu’ti (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah).

Untuk mendukung pelaksanaan seminar internasional, INFID bersama anak-anak muda dari NU dan Muhammadiyah berinisiatif menyediakan background paper tentang pengalaman organisasi Islam Wasatiyah di Indonesia untuk mendorong perluasan pemahaman dan pelaksanaan Islam yang damai dan toleran. Dokumen background paper ini menjadi dokumen pendamping dalam pelaksanaan Seminar Internasional.

Dokumen ini berisi 3 bagian utama. Pertama, Narasi Islām Raḥmatan Li al-ʿĀlamīn dalam Sejarah Nusantara. Dalam bagian ini terdapat tiga tulisan: (1) Belajar dari Toleransi Walisongo, tulisan ini menyediakan bukti-bukti pengalaman Walisongo dalam persentuhan budaya yang toleran dalam pengembangan Islam di Indonesia; (2) Dinamika Lokalitas Agama di Nusantara: Pengalaman Hindu, Buddha, dan Islam, tulisan ini mengetengahkan pengalaman sejarah hubungan agama lama dan agama baru yang panjang antara Islam, Hindu dan Budha di Indonesia; dan (3) Islam Melindungi Minoritas: Landasan, Dinamika, dan Tantangannya, tulisan ini menyediakan landasan teologis, upaya, dan tantangan mengayomi minoritas di lapangan.

Untuk melaksanakan gagasan tersebut, hal pertama dilakukan adalah menggelar Seminar Internasional. Seminar ini merupakan forum silahturahmi keempat negara (Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Tunisia), sekaligus forum berbagi pengalaman terkait upaya keempat negara tersebut menguatkan pemahaman dan praktik Islam penuh rahmat bagi semesta. Seminar juga menjadi sarana konsolidasi, agar pelaksanaan Islām rahmatan lil ‘alamin dapat menguat dan meluas ke berbagai negara muslim yang lain. Wajah damai dan toleran Islam ke depannya akan mengemuka dan menjadi teladan bagi negara di dunia.

Alhamdulillah, gayung bersambut. NU dan Muhammadiyah menyambut baik. Dalam audiensi dengan Sekretaris Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah dan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), gagasan INFID untuk memperluas pengalaman beragama secara toleran dan damai dari Indonesia (terutama NU dan Muhammadiyah) diterima dengan tangan terbuka. Acara internasional ini juga mendapat dukungan dari Sekretariat Wakil Presiden, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Agama, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Pakistan, Tunisia, dan Malaysia.

INFID menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh pimpinan organisasi NU dan Muhammadiyah, terutama kepada KH. Said Aqil Siradj (Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, 2010-2021), KH. Yahya Cholil Staquf (Ketua Umum Tanfidziyah PBNU 2022-2027), KH. Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah), KH. Helmy Faishal Zaini (Sekjen PBNU, 2015-2021), KH. Saifullah Yusuf (Sekjen PBNU 2022-2027), dan KH. Abdul Mu’ti (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah).

Untuk mendukung pelaksanaan seminar internasional, INFID bersama anak-anak muda dari NU dan Muhammadiyah berinisiatif menyediakan background paper tentang pengalaman organisasi Islam Wasatiyah di Indonesia untuk mendorong perluasan pemahaman dan pelaksanaan Islam yang damai dan toleran. Dokumen background paper ini menjadi dokumen pendamping dalam pelaksanaan Seminar Internasional.

Dokumen ini berisi 3 bagian utama. Pertama, Narasi Islām Raḥmatan
li al-ʿĀlamīn
dalam Sejarah Nusantara. Dalam bagian ini terdapat tiga tulisan: (1) Belajar dari Toleransi Walisongo, tulisan ini menyediakan bukti-bukti pengalaman Walisongo dalam persentuhan budaya yang toleran dalam pengembangan Islam di Indonesia; (2) Dinamika Lokalitas Agama di Nusantara: Pengalaman Hindu, Buddha, dan Islam, tulisan ini mengetengahkan pengalaman sejarah hubungan agamma lama dan agama baru yang panjang antara Islam, Hindu dan Budha di Indonesia; dan (3) Islam Melindungi Minoritas: Landasan, Dinamika, dan Tantangannya, tulisan ini menyediakan landasan teologis, upaya, dan tantangan mengayomi minoritas di lapangan.

Kedua, Gerakan Anak Muda dan Media untuk Islām Raḥmatan Li al-
ʿĀlamīn
. Ada 3 tulisan dalam bagian kedua ini: (1) Muslimah Muda Indonesia Mempromosikan Toleransi Melalui Media Sosial, tulisan ini menyediakan perspektif muslimah muda dalam menyebarluaskan narasi kesetaraan gender melalui toleransi dan moderasi beragama dalam platform digital; (2) GEN-M dan Cara Mempromosikan Islām Raḥmatan li al-ʿĀlamīn, tulisan ini menyediakan bukti-bukti kecenderungan anak muda di Indonesia untuk kebutuhan mendorong Islam penuh rahmat; dan (3) Peran Strategis (Sindikasi) Media Islam Menangkal Terorisme, tulisan ini menyediakan peta pertarungan media Islam untuk promosi dan kampanye Islam yang ramah dan menolak terorisme.

Dan ketiga, Membumikan Islām Raḥmatan li al-ʿĀlamīn: Pengalaman Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Tiga tulisan dalam bagian ini adalah: (1) Muslimah Indonesia dan Upaya Menguatkan Kesetaraan Gender: Landasan Teologis, Tantangan, dan Dinamika Gerakan, tulisan ini akan menyediakan landasan teologis, upaya, dan tantangan di lapangan dalam mendorong kesetaraan gender di Indonesia; (2) Pesantren NU dan Kaderisasi Ulama Nasionalis-Religius: Sejarah, Epistemologi Pemikiran, dan Desain Pendidikan, tulisan ini memberikan pengalaman pembelajaran di pesantren NU (materi, kurikulum, dan metode) yang mendukung upaya melahirkan para ulama yang toleran, damai, dan mencintai bangsa; dan (3) Pendidikan dan Kesehatan untuk Indonesia: Kontribusi Muhammadiyah, tulisan menyediakan pengalaman empiris Muhammadiyah menerapkan ajaran Islam untu melayani umat, melalui gerakan pendidikan dan kesehatan.

Ada 10 penulis dari NU dan Muhammadiyah yang terlibat dalam penulisan background paper ini. Mereka berkiprah menggerakkan, menguatkan komitmen, dan berbagi pengalaman melaksanakan Islam moderat dan toleran melalui kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Di struktur dan gerakan kultural organisasi. Di lapangan Pendidikan, Kesehatan, Media, dan lain-lain. Anak-anak muda tersebut secara urut alfabet adalah Aguk Irawan, Ahmad Baso, Ahmad Najib Burhani, Syafawi Ahmad Qadzafi, Alimatul Qibtiyah, Azaki Khoirudin, Diyah Puspitarini, Kalis Mardiasih, Marzuki Wahid, dan Muhammad Nur Prabowo Setyabudi.

INFID memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang besar kepada para penulis. Juga ucapan terima kasih kepada Alamsyah M. Dja’far sebagai penyunting. Semua pihak dan teman-teman program di INFID yang turut serta memastikan beberapa gagasan penting yang harus ditulis. Semoga ini merupakan ʿamal jāriyah (perbuatan baik tak berkesudahan).

Semoga bermanfaat, selamat membaca.

Jakarta, Januari 2022