AI: Privilege Negara Kaya, Bagaimana Nasib Negara Berkembang?

AI: Privilege Negara Kaya, Bagaimana Nasib Negara Berkembang?

Analisis Ringkas #CloseTheGap

Penulis: Intan Bedisa, Strategic Communication Lead INFID 

World Economic Forum (WEF) 2026 telah digelar pada 19-23 Januari di Davos-Klosters, Swiss. Salah satu isu utama yang menjadi fokus Davos tahun ini adalah artificial intelligence (AI). Pembahasan seputar AI bukan lagi pada penemuan atau inovasi, melainkan urgensi untuk melahirkan kepemimpinan, strategi, institusi, hingga kepercayaan untuk menavigasi perkembangan pesat AI tanpa menimbulkan dampak yang merusak pada ekonomi, sosial, politik, dan memperlebar ketimpangan.

Analisis ini menegaskan bahwa AI saat ini lebih menjadi privilese negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar. Keterbatasan kapasitas ekonomi dan infrastruktur di negara miskin dan berkembang berisiko memperlebar ketimpangan, terutama dalam menghadapi disrupsi teknologi.

Tanpa tata kelola yang tepat, AI dapat memperdalam ketimpangan struktural. Karena itu, Pemerintah Indonesia perlu proaktif menindaklanjuti diskursus WEF 2026 yang menekankan bahwa AI bukan sekadar perlombaan teknologi, melainkan soal kepemimpinan dalam beradaptasi dan mengelola transformasinya.