Peran Masyarakat Sipil dalam Upaya Deradikalisasi dan Reintegrasi Sosial Orang/Kelompok Terpapar Paham Radikal Terorisme di Kabupaten Sidoarjo

Peran Masyarakat Sipil dalam Upaya Deradikalisasi dan Reintegrasi Sosial Orang/Kelompok Terpapar Paham Radikal Terorisme di Kabupaten Sidoarjo

Penulis: Febriyanti Ryan Ariyani, Gusdurian Sidoarjo

Gusdurian mengemban misi untuk mengawal pergerakan kebangsaan Indonesia berlandaskan nilai, pemikiran, dan perjuangan Gus Dur—tokoh bangsa pembela HAM. Meski tidak membatasi pada isu tertentu, Jaringan Gusdurian telah banyak berkonsentrasi pada isu-isu kebangsaan, pendidikan, dan ekonomi rakyat. Jaringan Gusdurian telah menyebar di berbagai penjuru Indonesia, bahkan manca negara untuk mempromosikan inspirasi dan teladan Gus Dur. Komunitas-komunitas lokal juga banyak muncul dimotori oleh generasi muda dan saling terhubung dalam arena Jaringan Gusdurian.

Komunitas Gusdurian Sidoarjo mulai terbentuk sejak tahun 2013. Febri (27 tahun, perempuan) bergabung dengan Gusdurian Sidoarjo pada tahun 2016 dan telah banyak bergiat pada kerja-kerja terkait Islam dan keimanan, kultur, negara, dan kemanusiaan. Upaya deradikalisasi dan reintegrasi sosial orang/kelompok orang terpapar paham radikal terorisme dinilai oleh Febri sangat selaras dengan misi Gusdurian. Meski belum pernah terlibat dalam penanganan deportan, returni, dan eks napiter terpapar paham radikal terorisme, Febri merasa Program Harmoni yang dilaksanakan INFID dan PW Fatayat NU ini membawa kekuatan baru bagi penanganan radikalisme dan kekerasan berbasis ekstrimisme secara lebih luas.

Sebelum adanya Program Harmoni, Gusdurian Sidoarjo telah melakukan beberapa langkah penting dalam penanganan radikalisme, ekstrimisme dan terorisme. Pertama, membangun ruang pertemuan lintas iman untuk membuka kesadaran bahwa radikalisme dan ekstrimisme adalah permasalahan bagi semua agama dan kepercayaan. Dengan demikian, penanganan untuk menangani radikalisme dan ekstrimisme perlu mengutamakan pendekatan humanis dan tidak dengan mudah menghakimi orang/kelompok orang yang terindikasi terpapar paham radikal terorisme. Kedua, Gusdurian Sidoarjo aktif membumikan nilai-nilai keberagaman baik dalam ruang-ruang tatap muka maupun dunia maya (media sosial, podcast, website). Ketiga, melakukan advokasi dan penyelesaian permasalahan kekerasan berbasis perbedaan paham agama. Keempat, melakukan pendampingan terhadap korban kekerasan dan terorisme, misalnya korban tragedi Bom Gereja Santa Maria, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Pantekosta di Surabaya tahun 2018 lalu.

Penguatan Peran Akar Rumput

Fokus Program Harmoni yang mengupayakan deradikalisasi dan reintegrasi sosial orang/kelompok orang terpapar paham radikal terosisme, termasuk deportan/returni/eks napiter perempuan dan anak, dinilai Febri sangat penting bagi Kabupaten Sidoarjo. Mengingat, perhatian pada isu ini masih sangat minim, khususnya bagi kelompok akar rumput. Pasca tragedi Bom Surabaya tahun 2018, Gusdurian Sidoarjo telah memberi perhatian pada gerakan-gerakan radikal terorisme yang dijalankan orang/kelompok orang yang memiliki afiliasi sebagai keluarga pelaku Bom Surabaya. Gusdurian telah mengidentifikasi titik-titik lokasi yang rawan, dan menyelenggarakan beberapa kegiatan untuk membangun kultur yang lebih moderat. Namun, perhatian khusus pada deportan, returni, dan eks napiter belum ada.

“Kalau diajak kerjasama terkait terorisme, kita bersyukur. Karena di lapangan kita temukan banyak kasusnya,” kata Febriyanti Ryan Arifin.

Menurut Febri, perhatian terhadap deportan, returni, dan eks napiter terpapar paham radikal terorisme selama ini masih terfokus pada lembaga-lembaga tertentu, seperti BNPT, Densus 88, dan Kepolisian. Melalui Program Harmoni, lembaga-lembaga lain termasuk kelompok akar rumput ternyata dapat mengambil peran strategis. Gusdurian Sidoarjo yang telah lama membangun kedekatan dengan masyarakat dapat memanfaatkan jejaringnya dalam upaya ini. Gaya dan cara kerja Gusdurian yang mencoba ‘melebur’ bersama masyarakat dapat memberi makna penting bagi langkah untuk membangun kepercayaan dan empati terhadap orang/kelompok terpapar faham radikal terorisme, termasuk deportan, returni, dan eks napiter perempuan dan anak beserta keluarganya.

Keterangan: Febri (baris depan, kedua dari kiri) bersama forum multistakeholder Kab. Sidoarjo saat kunjungan kebun kopi yang dikelola eks napiter. (Foto: Febriyanti Ryan Ariyani)

“kalau kita yang dari Gusdurian ini termasuk orang yang awam, jadi memang kita perlu belajar,” kata Febriyanti Ryan Arifin.

Program Harmoni telah memperkuat modal pengetahuan dan keterampilan teknis baik bagi Febri secara pribadi maupun kelembagaan Gusdurian Sidoarjo. Gusdurian telah banyak mengembangkan gerakan kultural dalam agenda deradikalisasi, namun belum memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis yang memadai. Dengan adanya Pelatihan Risk Assessment Tools (RATs) dan Pelatihan Pedoman Teknis yang telah diselenggarakan, Febri merasa pengetahuan-pengetahuan yang didiseminasikan sangat bermanfaat dan penting bagi implementasi pendampingan, termasuk bagaimana memahami radikalisme secara lebih luas, cara pendekatan kepada klien, memahami cara melakukan assessment, dan lain sebagainya.

Implementasi Terstruktur Melalui Kolaborasi dan Rencana Tindak Lanjut

Dalam upaya mengawal kebangsaan, Gusdurian Sidoarjo lebih banyak bekerja secara independen. Febri menyatakan memiliki beberapa jejaring dengan Pemerintah di lingkup Sidoarjo, namun belum pernah melaksanakan kerja kolaborasi yang dirancang bersama. Selama ini, relasi dengan pihak Pemerintah terbatas pada advokasi kasus-kasus yang sedang ditangani Gusdurian Sidoarjo. Dengan demikian, Febri merasa kolaborasi yang dibangun melalui Program Harmoni merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memaksimalkan peran masing-masing stakeholder.

Kolaborasi yang terbangun dalam forum multistakeholder juga menjadi modal sosial yang baik, khususnya dalam membangun jejaring dan kepercayaan. Febri memahami bahwa isu yang diangkat dalam Program Harmoni merupakan isu sensitif, sehingga informasi selama ini masih eksklusif dimiliki oleh pihak tertentu, seperti BNPT, Densus 88, dan Kepolisian. Forum Multistakeholder menjadi ruang yang baik untuk berbagi informasi, data, pengalaman, dan pandangan. Akses terhadap data deportan, returni, dan eks napiter terpapar paham radikal terorisme merupakan kemajuan yang penting bagi Febri secara pribadi maupun lembaga Gusdurian Sidoarjo, agar mampu memberikan pemahaman secara lebih utuh terhadap karakteristik klien.

“… kita punya beberapa rencana tindak lanjut sendiri untuk Sidoarjo,
… kita cukup masif, dan teman-teman langsung gerak cepat,”
kata Febriyanti Ryan Ariani

Kekuatan Program Harmoni lainnya yang penting menurut Febri adalah adanya dorongan untuk menyusun dan mengimplementasikan Rencana Tindak Lanjut (RTL) pasca kegiatan Pelatihan RATs dan Pedoman Teknis. RTL menjadi bentuk komitmen bersama untuk mencapai tujuan program secara lebih terstruktur. RTL juga menjadi acuan bagi setiap stakeholder untuk mengoptimalkan perannya dalam pencapaian tujuan program. Dalam target waktu yang cukup singkat, Febri menyatakan bahwa setelah menyusun RTL, setiap stakeholder berupaya bergerak secara masif dan cepat untuk mengimplementasikannya. Meski demikian, beberapa kendala dihadapi oleh forum multiskaheolder sehingga berpengaruh terhadap perubahan RTL. Hal ini tidak membuat surut komitmen Gusdurian untuk tetap berperan dan beradaptasi terhadap perubahan yang dinamis.

“kalau bukan kita yang mendekati, bukan kita yang mendampingi atau ngancani, dia nggak akan kembali lagi ke jalannya yang benar, dia nggak tahu, karena dia udah nyaman di lingkup zona kelompoknya.”
kata Febriyanti Ryan Ariani