Perempuan Lintas Iman Melawan Stigma 

Perempuan Lintas Iman Melawan Stigma 

Penulis: Umi Kalsum

Editor: Nur Hayati Aida

Siapa yang mengira area domestik–yang selama ini dilekatkan hanya kepada perempuan dan seolah terpisah dari dunia luar–ternyata menjadi titik paling krusial untuk membawa nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan kesetaraan. 

Inilah yang dicontohkan oleh Komunitas Perempuan interfaith Kalimantan Selatan (KPi Kalsel). KPi Kalsel adalah ruang aman bagi perempuan dari berbagai latar belakang agama, suku dan profesi–mulai dari ibu rumah tangga, dosen, hingga dokter. Sejak tahun 2016, KPi Kalsel melalui berbagai aktvitas menyerukan perdamaian. KPi Kalsel memahami bahwa untuk bisa masuk ke dalam komunitas dari berbagai keyakinan perlu memakai strategi yang mudah diterima, misalnya dengan pertemuan rutin dengan memanfaatkan kegiatan arisan. 

Dalam pertemuan rutin tersebut, KPi Kalsel membuat ruang belajar bersama yang memungkinkan anggotanya membahas berbagai macam isu dan kaitanya dengan perempuan, sampai pada hal-hal kontekstual yang mereka hadapi. Selain bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan perempuan, kegiatan ini memungkinkan untuk menumbuhkan kepercayaan sesama anggota dan akhirnya terbangun ruang aman. Sebab, tidak banyak ruang dan kesempatan bagi perempuan lintas iman untuk berkembang  tanpa harus menerima stereotip negatif yang membuat mereka menjadi tidak percaya diri. 

Sebagaimana disampaikan Ibu M–perwakilan perempuan protestan–,“Di sini tidak ada diskriminasi atau intimidasi. Biasanya kalau saya berteman dengan orang di luar sana pasti ada yang bilang jangan berteman dengan dia, dia kristen. Jadi kita merasa gak enak. Selain itu, disini saya belajar bicara di depan umum, menjadi ketua kegiatan, membuat laporan. Yang sebelumnya minder sekarang jadi berani. Itu juga berlaku ketika saya di masyarakat jadi bisa berkontribusi

Tidak hanya memberi dukungan kepada perempuan dari latar belakang kepercayaan yang beragam, komunitas ini juga memberi kesempatan kepada perempuan lintas generasi. Orang muda diberi peluang dan kesempatan untuk terus berkembang dan belajar, misalnya melibatkan mereka dalam rapat komunitas, mempersilakan untuk menyuarakan gagasan, dan mengambil bagian pada program-program kerja. Melalui ruang-ruang pertemuan ini, perempuan lintas generasi saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. 

Dalam KPi Kalsel, sesama anggota  saling menginspirasi satu sama lain dan menjadi sumber inspirasi bagi perempuan di luar komunitas. Melalui program-program kerja yang disusun, anggota KPi Kalsel belajar bagaimana caranya menjalankan sebuah komunitas, menyusun kegiatan, menjadi narasumber, menjadi pembawa acara, membuat tulisan dan juga meningkatkan skill komunikasi. Kecakapan seperti ini  tidak hanya bermanfaat ketika mereka berada di KPi Kalsel,  tapi juga ketika mereka berada di tengah masyarakat. Inilah daya tarik KPi Kalsel yang membuat perempuan di luar anggota tertarik untuk turut bergabung menjadi bagian dari KPi. 

Saya banyak belajar bagaimana memahami sesuatu dan memiliki pola pikir yang baik, yang saya terapkan untuk diri sendiri dan keluarga. Saya juga belajar bagaimana berbaur, bersosialisasi dan menyampaikan aspirasi di tengah orang-orang dengan latar belakang yang beragama. Karena disini kan ada yang dokter, seorang tokoh, dosen, aktivis, bussiness woman, ibu rumah tanngga dan lain-lain. Jadinya skill komunikasi saya juga jadi meningkat dan kepercayaan diri saya terbangun” (Ibu M, perwakilan perempuan Ahmadiyah).

Hari-hari besar keagamaan, bagi KPi Kalsel, menjadi momentum yang tepat untuk saling mempelajari agama sesama anggota. Dengan memahami arti pentingnya perayaan agama tertentu, sehingga  tidak ada ketakutan atau saling menghakimi perbedaan. Momen perayaan keagamaan menjadi jembatan penghubung untuk mengikis prasangka, ujaran kebencian, serta untuk membangun narasi toleransi. 

Memecah Prasangka

Perempuan, dengan banyaknya stereotipe yang dilekatkan kepadanya, ternyata dapat menjadi agen perdamaian, toleransi, kesetaraan, bahkan menjadi contoh kerukunan antarumat beragama. Meski masih ada pernyataan-pernyataan yang nadanya meragukan dan merendahkan. Misalnya, “perempuan tugasnya adalah mengurus rumah saja”, adalah salah satu stigma yang mungkin paling sering terdengar. Atau ungkapan bahwa “perempuan lebih mengutamakan perasaan daripada logika” yang sering dipakai untuk mendiskreditkan suara perempuan dalam pengambilan keputusan, dan meragukan kemampuan perempuan dalam berfikir kritis. “Perempuan tidak bisa memimpin” pandangan seperti ini juga adalah bentuk meragukan kemampuan perempuan, selain itu ungkapan ini merupakan bentuk mengecilkan kontribusi perempuan dalam berbagai bidang di masyarakat.

Inilah yang membuat masih adanya pandangan miring terhadap KPi Kalsel hanya karena komunitas ini digerakkan oleh perempuan. Kegiatan kolektif perempuan di KPi Kalsel seringkali dipandang sebelah mata karena diaggap sebagai agenda arisan dan bergunjing belaka dan tidak memberi manfaat. Atau paling jauh, kebermanfaatan dari kegiatan hanya dalam ruang lingkup internal, sehingga dianggap tidak mampu mengakomodasi isu-isu besar dan luas.

Sayangnya, tidak banyak yang melihat bahwa perempuan memiliki ciri khas dan warnanya sendiri yang menjadikan gerakan mereka unik dan berbeda dari yang lain. Yaitu dengan pendekatan yang halus dan dimulai dari ranah rumah tangga, nilai-nilai toleransi dan perdamaian kemudian disebarluaskan. Perempuan sebagai pihak yang selama ini memiliki peran yang lebih banyak dalam pengasuhan keluarga, memiliki kontribusi yang sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan seperti toleransi, kerukunan dan perdamaian. Peran pengasuhan selama ini dinilai sebagai ciri khas perempuan, tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, dari sinilah dibentuk generasi bangsa yang berkarakter, memiliki kepedulian terhadap orang lain yang berbeda, berempati, serta bersikap terbuka terhadap keberagaman. Dengan menanamkan nilai-nilai toleransi sejak dini berarti meminimalisir perpecahan dan  membangun masyarakat yang damai dan toleran di masa depan.

Gaya kita memang tidak frontal seperti biasanya yang turun ke jalan, ribut-ribut di depan kantor DPR. Tapi kita coba dengan cara yang halus dan paling dekat dengan kita yaitu rumah tangga. Damai itu bukan tentang waktu kita berkumpul divsini saja tetapi juga ibu-ibu itu bisa menularkan damai yang kita cita-citakan. Dia bisa menularkan ke anaknya, suaminya, dan cucunya kelak.” (Ibu A, perwakilan perempuan katolik).

Penilaian bahwa perempuan adalah penggunjing tidaklah benar dan ini merupakan stereotip negatif terhadap perempuan. Stereotip seperti ini tentunya sangatlah merugikan dan merupakan sebuah penilaian yang sempit terhadap perempuan yang tidak berdasar. Tidak bisa dipungkiri selama ini masyarakat kita masih menyepelekan suara perempuan, dianggap tidak begitu penting sekalipun ia melakukan kegiatan penting seperti perdamaian. Nyatanya, dari contoh yang diberikan oleh KPi Kalsel,  perempuan dapat menjadi agen perubahan jika diberi kesempatan untuk belajar memaknai keberagaman yang mereka miliki.

Nilai-nilai toleransi, perdamaian dan kesetaraan dapat diwariskan secara hingga lintas generasi secara turun-temurun melalui perempuan dengan menggunakan pendekatan yang halus dan dimulai dari ranah domestik–sebuah area yang selama ini dianggap tak penting bagi sebagian orang. Perempuan dengan caranya mampu memanfaatkan apa yang dimilikinya untuk dapat berkontribusi pada komunitasnya demi kepentingan bersama, sesederhana dengan menyumbang makanan untuk membantu terlaksananya kegiatan. Bagaimana perempuan-perempuan ini bersama-sama berhasil merangkul perbedaan yang sangat perlu diapresiasi. Ini adalah bukti bahwa jika diberi kesempatan yang sama, perempuan tidaklah relevan dengan stigma dan stereotype negatif yang selama ini dilekatkan kepada mereka. 

***Artikel ini merupakan kerja sama antara penulis dan INFID melalui program PREVENT x Konsorsium INKLUSI sebagai bagian dari kampanye menyebarkan nilai dan semangat toleransi, kebebasan beragama dan berkeyakinan, serta inklusivitas.

Referensi

Trombin, A. Wawancara pribadi dengan Umi Kalsum. 12 Oktober 2024

Maimunah.  Wawancara pribadi dengan Umi Kalsum. 12 Oktober 2024

Wati, L.  Wawancara pribadi dengan Umi Kalsum. 12 Oktober 2024 

  1. Wawancara pribadi dengan Umi Kalsum. 12 Oktober 2024
  2. Wawancara pribadi dengan Umi Kalsum. 12 Oktober 2024

Gambar 2.1. Dialog Kebangsaan. Sumber: Umi Kalsum, 2024