Riswati: Memilih Bangkit bersama Perempuan dan Anak Korban Bencana 

Riswati: Memilih Bangkit bersama Perempuan dan Anak Korban Bencana 

Penulis: Intan Bedisa, Strategic Communication Lead INFID

12 Maret 2026

Artikel ini ditulis dalam rangka International Women’s Day 2026. Sebagai forum organisasi masyarakat sipil, INFID memaknai momen ini untuk merayakan para perempuan pembela hak asasi manusia (PPHAM). INFID akan hadirkan cerita-cerita dari para perempuan yang bertarung dengan risiko, demi keadilan sosial, dan menjaga hak sesama kita. Dukung mereka, bagikan tulisan ini, jadikan ini sebagai peluk hangat kita untuk mereka.

Riswati adalah potret kekuatan perempuan pembela HAM yang menempatkan dirinya setelah orang lain. Sesulit apapun kondisinya. Selama itu tidak membunuhnya, ia hanya akan semakin kuat. 

Riswati atau Kak Riris –panggilan akrabnya– adalah salah satu aktivis perempuan yang langsung turun ke lokasi bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera pada penghujung 2025 silam. Di wilayah Aceh saja, menurut data Pemerintah Aceh per 10 Januari 2026, bencana itu menelan 544 korban jiwa, membuat sekitar 216,000 warga mengungsi, hampir 150 ribu rumah rusak, dan 1000-an sekolah hancur dengan wilayah terdampak mencakup 18 Kabupaten/Kota, 200 Kecamatan, serta 3,038 gampong (desa).

Keterangan: Foto udara menampilkan tumpukan kayu memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlisin pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh (5/12/2025). Foto: Dok. Antara/Erlangga Bregas

Di menit awal mendengar bencana tersebut, ia langsung menghubungi sanak keluarganya. Sebagai pemimpin organisasi perempuan Flower Aceh, Kak Riris juga langsung menghubungi para stafnya, anggota perkumpulan Flower, serta para penggerak komunitas yang tersebar di 10 Kabupaten. Ia bersama tim Flower Aceh memastikan rekan-rekannya dalam keadaan aman, kalaupun ada yang terdampak, ia secepatnya mengkoordinasikan koordinator dan Staf Flower Aceh untuk segera mengirimkan bantuan untuk mereka.

“Kita di lembaga kontak gimana situasinya kemudian di saat yang sama kita juga langsung menghimpun dukungan ya. Dari internal lembaga sampai kita bikin open donasi gitu,” cerita Kak Riris. “Kemudian juga langsung kita mengkoordinir teman-teman relawan itu untuk turun. Dan memang karena Flower ini kan umumnya kami banyak teman-teman relawan dan lainnya kan perempuan ya,” lanjutnya.

Di hari ketiga banjir bandang, ia mengkoordinasikan keberangkatan tim relawan dari kota Banda Aceh ke titik-titik bencana. Flower Aceh berkolaborasi dengan lembaga penyelamatan pantai, Lifeguards Aceh untuk mendatangi lokasi banjir yang bisa dicapai, seperti di wilayah Pidie, Pidie Jaya, dan Bireun. Ia bercerita, perjalanan tim terhambat dengan kondisi jalan yang terputus dan tertahan di Bireuen karena jembatan penghubung antara Bireuen ke Aceh Utara terputus. 

“Bahkan beberapa titik itu terutama yang Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Pidie Jaya itu kayak lumpuh dia kan di beberapa titik. Yang lumpuh total itu Tamiang sama Aceh Tengah gitu,” ujar Kak Riris menggambarkan situasinya kepada tim INFID. Setelah perjalanan panjang melalui darat dan menerobos banjir dengan kapal mesin, mereka berhasil masuk ke wilayah terdampak, langsung belanja kebutuhan bantuan dan mendistribusikannya ke Aceh Utara dan Aceh Timur. 

Keterangan: Para relawan yang bekerja untuk kemanusiaan di lokasi banjir bandang di Kab. Aceh Tamiang. 
Foto: Dok. Pribadi/Riswati

Riris dan tim relawan Flower Aceh dan Lifeguards Aceh kloter 2 selanjutnya menyusul ke beberapa titik banjir pada minggu pertama Desember 2026. Di tengah situasi lumpuh total dan tanpa listrik, Kak Riris dan tim gerak cepat melakukan strategi yang mereka sebut Power With –gerakan kolektif akar rumput– dengan mengaktivasi posko tanggap darurat di tiap Kabupaten/Kota wilayah kerja Flower Aceh dan melibatkan kelompok perempuan akar rumput yang tergabung dalam Forum Komunitas Perempuan Akar Rumput (FKPAR) seperti Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Tengah dan Aceh Barat. Adapun pada lokasi lainnya, mereka berkoordinasi dengan teman-teman organisasi masyarakat sipil (OMS) yang bekerja di lokasi tersebut, seperti Forum PRB Aceh, Koalisi NGO HAM di Bireuen dan Bener Meriah, dengan WALHI Aceh di Lhokseumawe, Satuan Kerja Perangkat Kabupaten/Kota hak asasi manusia (SKPK HAM) di Aceh Timur, YPANBA di Pidie Jaya dan Bireuen, Kamudemes di Kota Langsa. 

Di Aceh Tamiang, Flower Aceh bersama Lifeguards Aceh juga menyediakan layanan perlindungan responsif gender, yaitu penyediaan informasi, konseling dasar, dan rujukan kasus kekerasan berbasis gender dan perlindungan anak. Mereka juga membuat posko dan dapur umum untuk pemenuhan kebutuhan pangan darurat dan menyediakan makanan cepat, aman, dan sesuai budaya lokal Aceh bagi penyintas, terutama perempuan, anak, lansia, dan disabilitas. Ada pula layanan konsultasi dan pemeriksaan kesehatan yang berkolaborasi dengan IDI Subulussalam dan Yayasan Obor Indonesia, memastikan adanya instrumen perlindungan perempuan dan anak, seperti titik pemantauan kebutuhan spesifik (gizi, asi, makanan pendamping asi), serta ruang aman informal untuk mengurangi risiko kekerasan berbasis gender dan penelantaran anak. Dalam prosesnya, mereka melibatkan perempuan dan kelompok muda terdampak sebagai pengelola dapur, mendorong peran aktif penyintas –bukan sekadar penerima bantuan. Di tengah situasi sulit, mereka bukan hanya membantu, namun membangkitkan semangat gotong royong solidaritas komunitas sebagai modal ketahanan sosial saat bencana.

Keterangan: Riswati (kerudung biru) tengah membagikan nasi bungkus bagi para korban bencana di dapur umum di Aceh Tamiang. Foto: Dok. pribadi/Riswati

Kerentanan Berlapis Anak dan Perempuan Korban Bencana

Di wilayah bencana, korban anak dan perempuan mendapatkan kerentanan yang berlapis. Perempuan—terutama ibu hamil, menyusui, lansia, dan perempuan kepala keluarga—menghadapi beban ganda, yaitu mengurus keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan dasar di tengah keterbatasan. Selain itu, akses terhadap kebutuhan dan layanan dasar terhambat, terutama kebutuhan spesifik perempuan dan anak, seperti pembalut, pakaian dalam, air bersih, dan ruang aman yang sangat terbatas. Partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan di lokasi pengungsian masih rendah. Kondisi ibu hamil dan menyusui sangat memprihatinkan. Mereka sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar, pemeriksaan kehamilan, dan asupan nutrisi yang layak.

“Risiko komplikasi kehamilan dan gangguan kesehatan ibu-anak meningkat,” resah Kak Riris.

Anak juga mengalami dampak yang serius. Banyak anak mengalami stres, trauma, ketakutan, dan kehilangan rasa aman akibat banjir dan pengungsian. Akses terhadap makanan bergizi, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan anak belum memadai. Aktivitas belajar jadi terhenti, serta minimnya ruang ramah anak di pengungsian.

“Risiko eksploitasi, kekerasan, dan pengabaian meningkat, terutama bagi anak Perempuan,” bebernya.

Keterangan: Anak-anak di pengungsian di Aceh Tamiang tengah mengantre nasi bungkus. 
Foto: Dok. pribadi/Riswati

Putus Komunikasi dengan Keluarga

Di luar segala tenaga dan perhatian untuk masyarakat terdampak bencana, Kak Riris sendiri menyimpan kalut karena tak kunjung mendengar kabar dari abang dan keluarga abangnya yang memiliki 1 bayi berusia 5 bulan dan 2 anak balita. Mereka tinggal di Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, wilayah yang lumpuh terkena banjir bandang.

Tubuhnya bergerak ke sana kemari, istirahat sebisanya, ikut membagikan bantuan, menghimpun donasi, menerabas medan curam dengan perjalanan berjam-jam, namun hati dan mulutnya tak lepas dari lantunan dzikir. Ia menyelipkan doa tak putus bagi keluarganya yang belum ada kabar sama sekali itu.

Kebetulan Flower Aceh bersama Lifeguards Aceh membuka posko dapur umum di Aceh Tamiang. Persis di hari ke-7 pasca banjir, salah satu relawan menginformasikan ada salah seorang korban banjir dengan tubuh bermandikan lumpur mengaku bernama Iwan, abang dari Kak Riris. Saat itu juga relawan membawa sang abang ke Langsa agar bisa mendapatkan jaringan telepon, karena jaringan komunikasi di Aceh Tamiang terputus akibat banjir. Kak Riris yang tengah melakukan respon bencana di Bireuen, mendengar suara yang tak asing saat mengangkat teleponnya. Keduanya saling memberi kabar, tangis pun tak terelakkan.

Abangnya bercerita, ia dan keluarganya selamat meskipun terpisah. Dengan langkah lemah dan tubuh bermandi lumpur, ia memberanikan diri turun dari Masjid tersebut dan berusaha mencapai dapur umum untuk mendapatkan nasi bungkus untuk keluarganya dan popok untuk anaknya.

“Abang dan keluarga pas banjir bertahan di lantai 2 Masjid, sementara istri dan anaknya di rumah warga tingkat 2 hampir sekitar 4 harian,” cerita Kak Riris dengan nada bergetar.

‘What doesn’t Kill You, Makes You Stronger’

Riswati, lahir di Rantau, Aceh Tamiang pada 28 April 1979. Sejak duduk di bangku kuliah S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia sudah banyak aktif di organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di jurusannya, pernah juga menjadi bendahara dan sekretaris di sejumlah organisasi ikatan mahasiswa. Aktivismenya lahir secara organik, khususnya pada isu perempuan dan anak di wilayah bencana. Sebagai inong –sebutan bagi perempuan Aceh–, ia telah mengalami berbagai masa sulit, mulai dari tsunami Aceh 2006, banjir bandang 2007, pandemi COVID19, serta banjir bandang akhir 2025 silam. Salah satu titik terendah dalam hidupnya adalah saat sang Ibu turut terjebak banjir bandang 2006.

“Saya nggak mau nanti ada orang-orang seperti Lansia, seperti Mamak saya, atau anak bayi gitu ya, terjebak dalam banjir dan nggak tertangani,” tuturnya dengan nada bergetar.

Bukan gentar, pengalaman-pengalaman itu justru semakin membentuknya dirinya hari ini yang semakin teguh untuk hadir di masa-masa sulit perempuan dan mengulurkan tangannya agar bangkit bersama. 

Meski ia sendiri mengalami kesulitan itu, ia tetap memutuskan untuk berada di barisan relawan. Baginya ini bukan profesi, ini panggilan moral. Sedikit banyak juga lahir dari kekecewaan, saat ia melihat perempuan dan anak menjadi korban paling terdampak, padahal selama ini mereka tak dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

“Banjir di Aceh itu karena kebijakan tata kelola yang buruk sekali, yang dia nggak melibatkan perempuan dalam perencanaannya. Tapi kita bayangkan dampaknya itu, yang parah itu perempuan, anak, lansia, yang nggak jelas akhirnya hidupnya di camp pengungsian,” sesal Kak Riris.

Kak Riris adalah potret kekuatan perempuan pembela HAM yang menempatkan dirinya setelah orang lain. Sesulit apapun kondisinya. Selama itu tidak membunuhnya, ia hanya akan semakin kuat. 

Selamat hari perempuan sedunia, Kak Riris, perempuan pembela HAM, dan seluruh perempuan di muka bumi.