Aktivisme Islam di Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi Umum (Studi Kasus di SMAN 51 Jakarta, SMAN 31 Jakarta, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, dan Telkom University)
Islam merupakan agama yang penuh rahmat, kasih sayang, toleran, damai, dan non diskriminatif. Menjadi seorang muslim, maka seharusnya menjadi seorang pembawa keselamatan dan pemberi berita gembira. Kitab suci al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad memberi panduan dan teladan yang nyata tentang karakter manusiawi dan persaudaraan dengan sesama muslim (ukhuwwah islamiyyah), persaudaraan sebangsa dan setanah air (ukhuwwah wathoniyyah) dan persaudaraan sesama umat manusia (ukhuwwah insaniyyah).
Namun, tidak sedikit berita, opini dan hasil penelitian yang memberi informasi tidak baik, tentang pemahaman dan tindakan intoleran dan ekstrim berkekerasan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam. Ekspresi beragama Islam seharusnya ditampilkan dengan cerah dan ceria, optimis terhadap masa depan dan kerjasama membangun peradaban. Doktrin yang disampaikan melalui Hadits Nabi menyatakan bahwa perbedaan adalah rahmat. Namun, sebagian umat Islam ada yang menampilkan ekspresi beragama yang eksklusif, intoleran, dan agresif terhadap yang berbeda.
Dan sangat disayangkan bahwa pemahaman dan tindakan yang intoleran yang mengatasnamakan agama (Islam) disebarkan seluas-luasnya. Melalui berbagai platform media sosial. Menggunakan berbagai kelompok pengajian. Institusi pendidikan juga menjadi lokasi strategis dan taktis dalam penyebaran paham dan sikap keberagaman yang intoleran dan agresif. Riset INFID (2019 dan 2021) menunjukkan sebagian lembaga pendidikan negeri tingkat perguruan tinggi secara sistematis dikuasai kelompok-kelompok ekstrimis dan digunakan untuk mereproduksi wacana dan sikap keberagaman yang cenderung keras dan menafikan nasionalisme.
Tren gairah terhadap kehidupan beragama di lingkungan pendidikan memang dirasakan makin tinggi. Menurut survei Varkey Foundation (2017) di 20 negara, ditemukan anak-anak muda Indonesia (usia 18-21 tahun) yang paling banyak (93 persen) menganggap komitmen terhadap agama sangat penting dalam mempengaruhi kondisi kebahagiaan mereka. Persentase tersebut jauh di atas rata-rata dunia yang hanya 44 persen.
Keadaan tersebut dapat dikonfirmasi dengan meluas dan massif fenomena menghidupkan pengajian-pengajian di lembaga sekolah, gerakan sholat jamaah, tadarus bersama, dan lain-lain. Peringatan hari-hari besar agama juga makin intensif. Apakah gejala demikian memberikan indikasi adanya gerakan beragama yang makin eksklusif? Ataukah hanya merupakan fenomena biasa untuk main mendekatkan rasa kepada kehidupan yang dianggap relijius? Bagaimana membaca dan memahami fenomena kehidupan beragama yang demikian kuat di lembaga-lembaga pendidikan tingkat menengah dan perguruan tinggi?
Buku yang ada di tangan Anda ini merupakan hasil riset yang mencoba membaca fenomena keberagaman yang rajin mengamalkan ritual-ritual seperti di atas. Riset ini dilaksanaan di 2 lembaga pendidikan menengah berstatus negeri, dan di 2 perguruan tinggi yang ada di bawah naungan BUMN. Diasumsikan seharusnya pendidikan di 4 lembaga tersebut diselenggarakan dengan mengedepankan nasionalisme dan menegasikan upaya-upaya keberagaman yang merusak kohesi sosial dan konsolidasi negara-bangsa.
Di 4 lembaga pendidikan tersebut, fenomena menghidupkan pengajian, gerakan sholat berjamaah, dan lain-lain, ada dan tampak nyata dengan intensitas yang tinggi. Karena memang dilaksanakan secara massif, bahkan menjadi aktivitas rutin, sebagai bagian dari proses pembelajaran di sekolah. Riset ini berusaha membaca dan memahami fenomena tersebut. Bagian dari temuan riset adalah bahwa aktivisme Islam di sekolah menengah dan kampus umum termanifestasikan dalam beragam bentuk, sehingga mereka tidak bisa dipahami dan didekati dengan pendekatan yang tunggal. Mereka harus dipahami sebagai sekumpulan anak muda yang sedang mencari jati diri di era revivalisme agama.
INFID mengucapkan terima kasih kepada tim peneliti Amin Mudzakkir (Peneliti BRIN), Anggi Afriansyah, Fachry Aidulsyah, Iman Zainatul Haeri, Indra Gumilar Prasetya. Mereka telah bekerja keras untuk mendapatkan data melalui wawancara mendalam kepada berbagai pihak. Sungguh ini merupakan upaya yang serius dan pantas mendapatkan apresiasi. Terutama karena dilakukan di tengah pandemi covid-19 yang sedang banyak korban sakit dan meninggal.